Yang Tersisa Dari Musyda PDM Bekasi
Nurkhamid alfi
Jum'at, 02 Juni 2023 - 23:01 WIB
Foto: istimewa
Patut disyukuri bahwa Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bekasi pada Sabtu 27 Mei kemarin berjalan lancar. Tentu ada dinamika. Namun arah kebijakan organisasi dijalankan secara disiplin. Etika Kemuhammadiyahan tetap menjadi pedoman.
Thema yang diambil juga tidak main-main: "Memajukan Kabupaten Bekasi, Mencerahkan Jawa Barat". Thema besar. Bahkan besar sekali. Thema itu mengandungkan komitmen filosofis gerakan berkemajuan: Ikut andil bekerjasama dengan Pemangku Kepentingan lainnya dalam memajukan kabupaten Bekasi sehingga mampu mencerahkan provinsi Jawa Barat.
Ada yang tersisa dan menarik untuk diperhatikan. Menimbulkan rasa optimistis. Yakni komposisi sembilan unsur pimpinan terpilih: tiga pimpinan adalah Pengusaha; Dosen ada tiga; Ulama ada tiga; Satu orang lagi kader biologis Muhammadiyah karena sejak muda telah aktif di organisasi otonom.
Komposisi seperti itu sangat menjanjikan. Sinergitas yang saling mengisi. Sangat dibutuhkan dalam sebuah gerakan. Antara Pengusaha-Pendidik-Ulama-Organisatoris. Mengingatkan pada periode awal-awal berdirinya Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.
Gerakan Muhammadiyah berdiri dan berkembang besar tidak lepas dari sinergitas lintas profesi seperti itu. Bahkan KH. Ahmad Dahlan sendiri mempunyai keempat profesi itu secara komplit: Pengusaha (batik); Ulama; Pendidik; dan Organisatoris.
Siapa yang menyangka jika di kemudian hari Muhammadiyah Bekasi akan cepat besar karena unsur pimpinannya mempunyai gabungan kapasitas yang mewakili kemampuan pribadi KH Ahmad Dahlan secara jama'i.
Thema yang diambil juga tidak main-main: "Memajukan Kabupaten Bekasi, Mencerahkan Jawa Barat". Thema besar. Bahkan besar sekali. Thema itu mengandungkan komitmen filosofis gerakan berkemajuan: Ikut andil bekerjasama dengan Pemangku Kepentingan lainnya dalam memajukan kabupaten Bekasi sehingga mampu mencerahkan provinsi Jawa Barat.
Ada yang tersisa dan menarik untuk diperhatikan. Menimbulkan rasa optimistis. Yakni komposisi sembilan unsur pimpinan terpilih: tiga pimpinan adalah Pengusaha; Dosen ada tiga; Ulama ada tiga; Satu orang lagi kader biologis Muhammadiyah karena sejak muda telah aktif di organisasi otonom.
Komposisi seperti itu sangat menjanjikan. Sinergitas yang saling mengisi. Sangat dibutuhkan dalam sebuah gerakan. Antara Pengusaha-Pendidik-Ulama-Organisatoris. Mengingatkan pada periode awal-awal berdirinya Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.
Gerakan Muhammadiyah berdiri dan berkembang besar tidak lepas dari sinergitas lintas profesi seperti itu. Bahkan KH. Ahmad Dahlan sendiri mempunyai keempat profesi itu secara komplit: Pengusaha (batik); Ulama; Pendidik; dan Organisatoris.
Siapa yang menyangka jika di kemudian hari Muhammadiyah Bekasi akan cepat besar karena unsur pimpinannya mempunyai gabungan kapasitas yang mewakili kemampuan pribadi KH Ahmad Dahlan secara jama'i.