Kelompok Muslim di Jerman Alami Rasisme dan Diskriminasi Tiap Hari
Muhajirin
Senin, 03 Juli 2023 - 17:00 WIB
Kelompok muslim di Jerman setiap hari mengalami rasisme dan diskriminasi, mulai dari anak-anak sampai orang tua
Kelompok muslim di Jerman setiap hari mengalami rasisme dan diskriminasi, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Muslim Jerman harus menghadapi diskriminasi yang merajalela, kebencian, dan terkadang kekerasan.
Hal itu terungkap dalam laporan komprehensif setebal 400 halaman yang diterbitkan oleh panel independen beranggotakan 12 orang. Panel tersebut membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan laporan. Temuan itu dipresentasikan di Kementerian Dalam Negeri Jerman.
Kelompok Ahli Independen tentang Permusuhan Muslim (UEM) menganalisis studi ilmiah, statistik kejahatan polisi, dan dokumentasi insiden anti-Muslim oleh lembaga antidiskriminasi, pusat konseling, dan organisasi nonpemerintah.
Baca juga:Suka Duka Tim Safari Wukuh Lansia: Rela Memandikan dan Mengganti Pampers Jemaah
UEM menerangkan, setidaknya sepertiga Muslim di Jerman mengalami permusuhan karena agama mereka. Namun, para ahli menegaskan jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena hanya 10% Muslim yang melaporkan permusuhan dan kejahatan rasial terhadap mereka.
“Kehidupan Muslim adalah milik Jerman sebagai hal yang biasa. Banyak dari 5,5 juta Muslim di Jerman mengalami pengucilan dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari – termasuk kebencian dan kekerasan. Sangat penting untuk membuat ini terlihat dan untuk meningkatkan kesadaran akan kebencian yang masih meluas,” kata Menteri Dalam Negeri Nancy Faeser dalam sebuah pernyataan, dikutip Al Jazeera, Senin (3/7/2023).
Muslim Jerman tidak hanya terpapar rasisme tetapi juga stereotip sehari-hari dari taman kanak-kanak hingga usia tua. Bahkan, muslim kelahiran Jerman secara luas dipandang sebagai ‘asing’ dan Islam dianggap sebagai ‘agama terbelakang’.
Hal itu terungkap dalam laporan komprehensif setebal 400 halaman yang diterbitkan oleh panel independen beranggotakan 12 orang. Panel tersebut membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan laporan. Temuan itu dipresentasikan di Kementerian Dalam Negeri Jerman.
Kelompok Ahli Independen tentang Permusuhan Muslim (UEM) menganalisis studi ilmiah, statistik kejahatan polisi, dan dokumentasi insiden anti-Muslim oleh lembaga antidiskriminasi, pusat konseling, dan organisasi nonpemerintah.
Baca juga:Suka Duka Tim Safari Wukuh Lansia: Rela Memandikan dan Mengganti Pampers Jemaah
UEM menerangkan, setidaknya sepertiga Muslim di Jerman mengalami permusuhan karena agama mereka. Namun, para ahli menegaskan jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena hanya 10% Muslim yang melaporkan permusuhan dan kejahatan rasial terhadap mereka.
“Kehidupan Muslim adalah milik Jerman sebagai hal yang biasa. Banyak dari 5,5 juta Muslim di Jerman mengalami pengucilan dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari – termasuk kebencian dan kekerasan. Sangat penting untuk membuat ini terlihat dan untuk meningkatkan kesadaran akan kebencian yang masih meluas,” kata Menteri Dalam Negeri Nancy Faeser dalam sebuah pernyataan, dikutip Al Jazeera, Senin (3/7/2023).
Muslim Jerman tidak hanya terpapar rasisme tetapi juga stereotip sehari-hari dari taman kanak-kanak hingga usia tua. Bahkan, muslim kelahiran Jerman secara luas dipandang sebagai ‘asing’ dan Islam dianggap sebagai ‘agama terbelakang’.