Menjaga Silaturrahim Umat
Tim langit 7
Sabtu, 15 Juli 2023 - 09:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Ada satu ajaran penting dan mendasar agama Islam di dalam membangun relasi sosial di antara pemeluk agama ini. Ajaran itu disebut “silaturrahim”. Sebagian orang Indonesia menyebutnya “silaturrahmi”.
Silaturrahim atau silaturrahmi terkomposisi dalam dua kata: shilatun dan rahim. “Shilatun” berarti sambungan. Berasal dari kata “washola-yashilu-shilatun” atau menyambung dan yang semakna. Sementara “ar-rahim” berarti rahmah atau kasih sayang.
Dalam pemahaman sederhananya shilaturrahim dimaknai sebagai saling menyambung hubungan dan saling mengunjungi. Walau pada tataran filsafatnya konsep ini bukan sekedar saling mengunjungi. Tapi lebih mendasar dari itu. Yaitu tertanamnya rasa “kasih sayang” dalam hati setiap orang Mukmin terhadap satu sama lain.
Baca juga:Bisnis, Sunnah Rasul yang Terabaikan!
Dengan demikian ajaran shilaturrahim dalam Islam menjadi penting untuk mendefenisikan hubungan antar umat. Bahwa hubungan di antara sesama umat Islam bukan hubungan biasa. Bukan hubungan darah, ras atau etnis dan kebangsaan. Bukan juga karena hubungan kepentingan semata. Tapi hubungan yang lebih murni, kokoh dan harusnya tidak goyah oleh apapun. Itulah hubungan “hati” yang di dalamnya tertanam “rahmah” (kasih sayang) terhadap satu sama lain.
Di dalam Al-Qur’an sendiri penggambaran hubungan antar pengikut Muhammad SWA ini diekspresikan dengan “ruhamaa baenahum”. Menggambarkan bahwa relasi antar pengikut Muhammad: “Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya” itu selain tegas terhadap kekafiran juga memiliki relasi “rahmah” (kasih sayang) di antara mereka.
Sedemikian mendasarnya hubungan batin/hati antar pengikut Muhammad ini sehingga memutuskannya (qaatho’ah) menjadikan Allah memutus hubungan dengannya. “Barangsiapa yang memutuskan silaturrahim maka Allah memutuskan hubungan dengannya” (hadits).
Silaturrahim atau silaturrahmi terkomposisi dalam dua kata: shilatun dan rahim. “Shilatun” berarti sambungan. Berasal dari kata “washola-yashilu-shilatun” atau menyambung dan yang semakna. Sementara “ar-rahim” berarti rahmah atau kasih sayang.
Dalam pemahaman sederhananya shilaturrahim dimaknai sebagai saling menyambung hubungan dan saling mengunjungi. Walau pada tataran filsafatnya konsep ini bukan sekedar saling mengunjungi. Tapi lebih mendasar dari itu. Yaitu tertanamnya rasa “kasih sayang” dalam hati setiap orang Mukmin terhadap satu sama lain.
Baca juga:Bisnis, Sunnah Rasul yang Terabaikan!
Dengan demikian ajaran shilaturrahim dalam Islam menjadi penting untuk mendefenisikan hubungan antar umat. Bahwa hubungan di antara sesama umat Islam bukan hubungan biasa. Bukan hubungan darah, ras atau etnis dan kebangsaan. Bukan juga karena hubungan kepentingan semata. Tapi hubungan yang lebih murni, kokoh dan harusnya tidak goyah oleh apapun. Itulah hubungan “hati” yang di dalamnya tertanam “rahmah” (kasih sayang) terhadap satu sama lain.
Di dalam Al-Qur’an sendiri penggambaran hubungan antar pengikut Muhammad SWA ini diekspresikan dengan “ruhamaa baenahum”. Menggambarkan bahwa relasi antar pengikut Muhammad: “Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya” itu selain tegas terhadap kekafiran juga memiliki relasi “rahmah” (kasih sayang) di antara mereka.
Sedemikian mendasarnya hubungan batin/hati antar pengikut Muhammad ini sehingga memutuskannya (qaatho’ah) menjadikan Allah memutus hubungan dengannya. “Barangsiapa yang memutuskan silaturrahim maka Allah memutuskan hubungan dengannya” (hadits).