Sisi Gelap Perceraian, Berdampak pada Perilaku Anak
Muhajirin
Jum'at, 28 Juli 2023 - 17:00 WIB
ilustrasi
Pakar Psikologi Keluarga Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Nurul Hartini, menguraikan sisi gelap perceraian yang bisa berdampak pada perilaku anak. Meski perceraian bisa menjadi solusi dari konflik yang tak teratasi dalam rumah tangga, namun dampaknya pada anak-anak selalu menjadi perhatian serius.
Prof Nurul menjelaskan, perceraian biasanya terjadi karena ada ketidakmampuan menemukan titik temu pada sebuah permasalahan pasangan. Permasalahan itu bisa muncul dari beragam faktor, seperti ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.
"Seringkali sesuatu yang tidak bisa bersatu biasanya memang ada kehadiran orang ketiga. Hanya saja, seringkali memang karena munculnya perselisihan yang tidak bisa untuk saling damai," kata Prof Nurul melalui keterangan resmi di laman Unair, dikutip Jumat (28/7/2023).
Menurut dia, seringkali keputusan bercerai tidak melalui pertimbangan yang matang. Bagi kedua orang tua, bisa jadi berpisah merupakan hal yang tepat. Tapi belum tentu demikian bagi anak. Itu karena tidak selamanya seseorang akan mendapat pasangan yang lebih baik saat memutuskan untuk berpisah dari pasangan sebelumnya.
"Ketika kita bisa menghargai perbedaan dan menoleransi kekurangan, kita harus yakin bahwa pasangan kita saat ini adalah apa yang terbaik dari Allah. Yang lain hanya fatamorgana saja," ucapnya.
Guru Besar Fakultas Psikologi Unair itu menjelaskan, bagi anak dan keluarga, perceraian merupakan hal yang paling tidak diinginkan. Sikap dan keputusan orang tua akan berdampak pada anak.
Hal ini juga akan bergantung pada kemampuan anak untuk beradaptasi. Tentunya, perceraian merupakan hal kompleks yang perlu menelisik dari berbagai aspek.
Prof Nurul menjelaskan, perceraian biasanya terjadi karena ada ketidakmampuan menemukan titik temu pada sebuah permasalahan pasangan. Permasalahan itu bisa muncul dari beragam faktor, seperti ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.
"Seringkali sesuatu yang tidak bisa bersatu biasanya memang ada kehadiran orang ketiga. Hanya saja, seringkali memang karena munculnya perselisihan yang tidak bisa untuk saling damai," kata Prof Nurul melalui keterangan resmi di laman Unair, dikutip Jumat (28/7/2023).
Menurut dia, seringkali keputusan bercerai tidak melalui pertimbangan yang matang. Bagi kedua orang tua, bisa jadi berpisah merupakan hal yang tepat. Tapi belum tentu demikian bagi anak. Itu karena tidak selamanya seseorang akan mendapat pasangan yang lebih baik saat memutuskan untuk berpisah dari pasangan sebelumnya.
"Ketika kita bisa menghargai perbedaan dan menoleransi kekurangan, kita harus yakin bahwa pasangan kita saat ini adalah apa yang terbaik dari Allah. Yang lain hanya fatamorgana saja," ucapnya.
Guru Besar Fakultas Psikologi Unair itu menjelaskan, bagi anak dan keluarga, perceraian merupakan hal yang paling tidak diinginkan. Sikap dan keputusan orang tua akan berdampak pada anak.
Hal ini juga akan bergantung pada kemampuan anak untuk beradaptasi. Tentunya, perceraian merupakan hal kompleks yang perlu menelisik dari berbagai aspek.