Gus Pur: Al-Qur'an tidak Pernah Bertentangan dengan Sains
Muhajirin
Sabtu, 12 Agustus 2023 - 23:45 WIB
ilustrasi
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Agus Purwanto (Gus Pur), menjelaskan, tantangan yang berkembang dalam ilmu pengetahuan, khususnya dalam fisika dan biologi, seringkali menuntut umat Islam untuk menjembatani kesenjangan antara akal dan keyakinan.
Wacana islamisasi ilmu pengetahuan muncul sebagai upaya untuk mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Fokus utama islamisasi ilmu pengetahuan tersebut terletak pada dua bidang penting, yakni fisika dan biologi, yang menjadi persinggungan dialog antara agama dan sains.
Menurut Gus Pur, dua persoalan mendasar muncul dari bidang-bidang tersebut. Pertama, tentang asal mula penciptaan alam semesta, yang menjadi domain fisika. Kedua, mengenai identitas manusia pertama, yang melibatkan ranah biologi.
Kedua persoalan tersebut menggugah pertanyaan mendalam, mengajak umat Islam merenung tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan agama dapat saling melengkapi atau bahkan berselisih dalam memberikan jawaban.
“Islamisasi ilmu pengetahuan biasanya fokus pada wacana fisika dan biologi. Kenapa? Karena dua cabang ilmu sains inilah yang memiliki persinggungan yang cukup kuat dengan agama,” ucap Gus Pur dalam Kuliah Subuh di Masjid ITS, dikutip Sabtu (12/8/2023).
Tantangan itu juga mencetuskan respon para pemuka agama, termasuk dalam konteks Islam, untuk melakukan revivalisasi dan tafsir ulang terhadap ajaran-ajaran agama dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Di tengah perjalanan tersebut , lahir karya-karya monumental seperti “Ayat-Ayat Semesta” karya Gus Pur sendiri dan “Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern” yang ditulis oleh Nidhal Guessoum. Dua contoh karya ini menjadi wujud nyata dari upaya menemukan kesepakatan antara tradisi Muslim dan pengetahuan modern.
Wacana islamisasi ilmu pengetahuan muncul sebagai upaya untuk mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Fokus utama islamisasi ilmu pengetahuan tersebut terletak pada dua bidang penting, yakni fisika dan biologi, yang menjadi persinggungan dialog antara agama dan sains.
Menurut Gus Pur, dua persoalan mendasar muncul dari bidang-bidang tersebut. Pertama, tentang asal mula penciptaan alam semesta, yang menjadi domain fisika. Kedua, mengenai identitas manusia pertama, yang melibatkan ranah biologi.
Kedua persoalan tersebut menggugah pertanyaan mendalam, mengajak umat Islam merenung tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan agama dapat saling melengkapi atau bahkan berselisih dalam memberikan jawaban.
“Islamisasi ilmu pengetahuan biasanya fokus pada wacana fisika dan biologi. Kenapa? Karena dua cabang ilmu sains inilah yang memiliki persinggungan yang cukup kuat dengan agama,” ucap Gus Pur dalam Kuliah Subuh di Masjid ITS, dikutip Sabtu (12/8/2023).
Tantangan itu juga mencetuskan respon para pemuka agama, termasuk dalam konteks Islam, untuk melakukan revivalisasi dan tafsir ulang terhadap ajaran-ajaran agama dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Di tengah perjalanan tersebut , lahir karya-karya monumental seperti “Ayat-Ayat Semesta” karya Gus Pur sendiri dan “Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern” yang ditulis oleh Nidhal Guessoum. Dua contoh karya ini menjadi wujud nyata dari upaya menemukan kesepakatan antara tradisi Muslim dan pengetahuan modern.