Yogyakarta Penyedia Perguruan Tinggi Berkualitas Mulai Runtuh?
Muhajirin
Selasa, 22 Agustus 2023 - 18:00 WIB
ilustrasi
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, menilai sektor pendidikan tinggi swasta (PTS) di DI Yogyakarta perlu mendapat perhatian seperti sektor pariwisata. Para mahasiswa sejatinya merupakan wisatawan dengan kunjungan lama, bisa sampai empat tahun.
"Kontribusi PTS melalui beragam aktivitas dan mahasiswa dalam menggerakkan ekonomi lokal sangat signifikan," kata Fathul melalui laman UII, dikutip Selasa (22/8/2023).
Berdasarkan Susenas 2021, setiap mahasiswa di Yogyakarta membelanjakan Rp1,70 juta per bulan. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan hasil survei Bank Indonesia pada 2020, yakni rata-rata pengeluaran mahasiswa pendatang Rp3,03 juta per bulan.
Pengeluaran tersebut beragam kebutuhan, termasuk akomodasi, transportasi, komunikasi, kesehatan, dan hiburan. Pada 2022, mahasiswa PTS di Yogyakarta berjumlah 290.621. Angka tersebut belum termasuk mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Jika sebanyak 70% dari mahasiswa PTS adalah pendatang, maka jumlah pengeluaran mereka, menggunakan basis Susenas, adalah Rp345,84 miliar per bulan alias Rp11,53 miliar per hari. Hal tersebut memiliki pengaruh dalam menggerakkan roda ekonomi di Yogyakarta.
Menurut Fathul, dampak PTS sangat jelas. Survei pada Desember 2020 ketika pandemi Covid-19 menyerang, hanya 27% PTS di Yogyakarta yang tidak mempunyai masalah keuangan. Sisanya berjuang dengan berbagai cara, termasuk meminta bantuan kepada badan penyelenggara (yayasan) dan menggunakan tabungan.
"Potret tidak berubah signifikan meski setelah berjalan dua tahun, ketika pandemi mulai mereda. Survei pada Oktober 2022 menunjukkan hanya 29% PTS yang tidak mempunyai masalah keuangan," ujar Fathul.
"Kontribusi PTS melalui beragam aktivitas dan mahasiswa dalam menggerakkan ekonomi lokal sangat signifikan," kata Fathul melalui laman UII, dikutip Selasa (22/8/2023).
Berdasarkan Susenas 2021, setiap mahasiswa di Yogyakarta membelanjakan Rp1,70 juta per bulan. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan hasil survei Bank Indonesia pada 2020, yakni rata-rata pengeluaran mahasiswa pendatang Rp3,03 juta per bulan.
Pengeluaran tersebut beragam kebutuhan, termasuk akomodasi, transportasi, komunikasi, kesehatan, dan hiburan. Pada 2022, mahasiswa PTS di Yogyakarta berjumlah 290.621. Angka tersebut belum termasuk mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Jika sebanyak 70% dari mahasiswa PTS adalah pendatang, maka jumlah pengeluaran mereka, menggunakan basis Susenas, adalah Rp345,84 miliar per bulan alias Rp11,53 miliar per hari. Hal tersebut memiliki pengaruh dalam menggerakkan roda ekonomi di Yogyakarta.
Menurut Fathul, dampak PTS sangat jelas. Survei pada Desember 2020 ketika pandemi Covid-19 menyerang, hanya 27% PTS di Yogyakarta yang tidak mempunyai masalah keuangan. Sisanya berjuang dengan berbagai cara, termasuk meminta bantuan kepada badan penyelenggara (yayasan) dan menggunakan tabungan.
"Potret tidak berubah signifikan meski setelah berjalan dua tahun, ketika pandemi mulai mereda. Survei pada Oktober 2022 menunjukkan hanya 29% PTS yang tidak mempunyai masalah keuangan," ujar Fathul.