Rain Garden System, Solusi Berkelanjutan Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
Muhajirin
Sabtu, 26 Agustus 2023 - 18:00 WIB
Konsep sistem Rain Garden untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular.
Peneliti dari Kelompok Riset Kimia Analitik, Pusat Riset Kimia Maju - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hafiizh Prasetia, mengembangkan konsep sistem Rain Garden untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular.
Sistem Rain Garden adalah sebuah hamparan alami seperti sebuah taman, yang terdiri dari kombinasi tanah, serasah daun, dan tanaman. Rain garden disebut juga sebagai daerah bioretensi, didesain untuk menampung sementara air hujan, melakukan penyaringan, dan membantu proses infiltrasi dan evaporasi.
Penelitian ini berangkat dari masalah pencemaran lingkungan, yang diakibatkan masuknya bahan pencemar atau polutan, dapat berupa gas maupun bahan-bahan terlarut dan partikulat.
"Pencemaran air dapat melalui atmosfer, tanah, limpasan (run off), ataupun limbah domestik dan industri," ungkap Hafiizh dalam webinar ORNAMAT ke-33 BRIN, dikutip Sabtu (26/8/2023).
Pada penelitian ini, Hafiizh dan tim mengembangkan konsep sistem Rain Garden aliran bawah permukaan horizontal. Bagaimana potensi tanaman purun tikus untuk mengatasi pencemaran logam berat besi (Fe) dan mangan (Mn) pada limpasan air hujan.
Hasil penelitian ini menunjukkan, presentasi logam beratnya hampir lumayan bagus, yaitu 70 persenan. Jadi walaupun lebih rendah dari beberapa penelitian yang lain, namun ini sudah bisa dipastikan memiliki potensi lumayan besar," terangnya.
Penelitian kedua, aplikasi rain garden system di wilayah perkotaan sebagai solusi penanggulangan limpasan air hujan dan proteksi sumber daya air. Kebanyakan, di kota-kota besar, khususnya di perumahan, air hujan tidak bisa langsung masuk ke dalam tanah otomatis, dan ini akan menjadi masalah, seperti aliran permukaan.
Sistem Rain Garden adalah sebuah hamparan alami seperti sebuah taman, yang terdiri dari kombinasi tanah, serasah daun, dan tanaman. Rain garden disebut juga sebagai daerah bioretensi, didesain untuk menampung sementara air hujan, melakukan penyaringan, dan membantu proses infiltrasi dan evaporasi.
Penelitian ini berangkat dari masalah pencemaran lingkungan, yang diakibatkan masuknya bahan pencemar atau polutan, dapat berupa gas maupun bahan-bahan terlarut dan partikulat.
"Pencemaran air dapat melalui atmosfer, tanah, limpasan (run off), ataupun limbah domestik dan industri," ungkap Hafiizh dalam webinar ORNAMAT ke-33 BRIN, dikutip Sabtu (26/8/2023).
Pada penelitian ini, Hafiizh dan tim mengembangkan konsep sistem Rain Garden aliran bawah permukaan horizontal. Bagaimana potensi tanaman purun tikus untuk mengatasi pencemaran logam berat besi (Fe) dan mangan (Mn) pada limpasan air hujan.
Hasil penelitian ini menunjukkan, presentasi logam beratnya hampir lumayan bagus, yaitu 70 persenan. Jadi walaupun lebih rendah dari beberapa penelitian yang lain, namun ini sudah bisa dipastikan memiliki potensi lumayan besar," terangnya.
Penelitian kedua, aplikasi rain garden system di wilayah perkotaan sebagai solusi penanggulangan limpasan air hujan dan proteksi sumber daya air. Kebanyakan, di kota-kota besar, khususnya di perumahan, air hujan tidak bisa langsung masuk ke dalam tanah otomatis, dan ini akan menjadi masalah, seperti aliran permukaan.