Khutbah Jumat di PBB New York
Tim langit 7
Ahad, 29 Oktober 2023 - 11:48 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Salah satu jadwal khutbah rutin bulanan saya di Kota New York adalah khutbah Jumat ke-4 di kantor pusat PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) New York.
Jadwal yang saya anggap Kehormatan ini telah saya mulai sejak tahun 1998 yang lalu. Ketika itu saya diminta menjadi khatib di PBB melalui Duta Besar (Wakil Tetap) RI untuk PBB, Bapak Makarim Wibisono. Saat itu saya masih bekerja sebagai staf lokal di Perwakilan Tetap RI untuk PBB New York.
Jumatan PBB diikuti oleh selain staf kantor pusat PBB, juga para diplomat Muslim dari negara-negara Islam maupun non Islam. Ada sekitar 300-an yang hadir di saat Sholat Jumat itu. Para Khatib juga beragam latar belakang. Ada dari Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan, dan saya sendiri berlatar belakang Asia, kebetulan dari Indonesia.
Khutbah Jum’at kemarin, 27 Oktober, menjadi terasa sangat berbeda. Ada perasaan sedih, marah, tapi penuh harap. Tapi juga dibayang-bayangi perasaan khawatir, bahkan rasa ketidak berdayaan. Sehingga beberapa poin dari konten khutbah yang biasanya saya siapkan menjadi kurang terarah dan kurang sistimatis.
Jumatan kemarin juga bersamaan dengan pertemuan darurat Majlis Umum PBB membahas tentang krisis kemanusiaan di Gaza. Isu ini dalam beberapa hari sebelumnya telah dibahas di Dewan Keamanan PBB. Namun dalam tiga kali perdebatan resolusi gagal diadopsi karena Amerika dan Rusia sebagai anggota tetap DK-PBB saling men-veto.
Khutbah yang biasany 25 menit saya persingkat menjadi hanya 20 menit. Maklum ada beberapa Dube Besar yang hadir di jumatan itu. Mereka pastinya punya waktu yang singkat dan segera kembali ke acara perdebatan Majlis Umum PBB.
Dalam khutbah saya sampaikan beberapa poin. Mungkin tidak berlebihan jika khutbah ini saya anggap sebagai pesan dan nasehat kepada umat, khususnya kalangan diplomat dan pejabat UN yang hadir. Di antara yang hadir ada Dubes Saudi, Nigeria, Malaysia, dan beberapa lainnya.
Jadwal yang saya anggap Kehormatan ini telah saya mulai sejak tahun 1998 yang lalu. Ketika itu saya diminta menjadi khatib di PBB melalui Duta Besar (Wakil Tetap) RI untuk PBB, Bapak Makarim Wibisono. Saat itu saya masih bekerja sebagai staf lokal di Perwakilan Tetap RI untuk PBB New York.
Jumatan PBB diikuti oleh selain staf kantor pusat PBB, juga para diplomat Muslim dari negara-negara Islam maupun non Islam. Ada sekitar 300-an yang hadir di saat Sholat Jumat itu. Para Khatib juga beragam latar belakang. Ada dari Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan, dan saya sendiri berlatar belakang Asia, kebetulan dari Indonesia.
Khutbah Jum’at kemarin, 27 Oktober, menjadi terasa sangat berbeda. Ada perasaan sedih, marah, tapi penuh harap. Tapi juga dibayang-bayangi perasaan khawatir, bahkan rasa ketidak berdayaan. Sehingga beberapa poin dari konten khutbah yang biasanya saya siapkan menjadi kurang terarah dan kurang sistimatis.
Jumatan kemarin juga bersamaan dengan pertemuan darurat Majlis Umum PBB membahas tentang krisis kemanusiaan di Gaza. Isu ini dalam beberapa hari sebelumnya telah dibahas di Dewan Keamanan PBB. Namun dalam tiga kali perdebatan resolusi gagal diadopsi karena Amerika dan Rusia sebagai anggota tetap DK-PBB saling men-veto.
Khutbah yang biasany 25 menit saya persingkat menjadi hanya 20 menit. Maklum ada beberapa Dube Besar yang hadir di jumatan itu. Mereka pastinya punya waktu yang singkat dan segera kembali ke acara perdebatan Majlis Umum PBB.
Dalam khutbah saya sampaikan beberapa poin. Mungkin tidak berlebihan jika khutbah ini saya anggap sebagai pesan dan nasehat kepada umat, khususnya kalangan diplomat dan pejabat UN yang hadir. Di antara yang hadir ada Dubes Saudi, Nigeria, Malaysia, dan beberapa lainnya.