Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 15 Juni 2026
home masjid detail berita

Dinamika Domestik sang Khalifah: Sisi Lain Kehidupan Umar bin Khattab dan Istri-Istrinya

miftah yusufpati Senin, 15 Juni 2026 - 16:14 WIB
Dinamika Domestik sang Khalifah: Sisi Lain Kehidupan Umar bin Khattab dan Istri-Istrinya
Umar tidak pernah menggunakan kekuasaan politiknya untuk memaksakan kehendak di bilik asmara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sore itu di Madinah, udara terasa kering. Di sebuah sudut rumah, Aisyah Ummulmukminin mendengarkan penolakan adiknya, Umm Kulsum putri Abu Bakr. Sang adik, yang saat itu masih seorang gadis kecil, baru saja dilamar oleh orang nomor satu di wilayah kedaulatan Islam: Khalifah Umar bin Khattab.

Lamaran dari seorang pemimpin besar ternyata tidak serta-merta melunakkan hati sang gadis. Dengan tegas, Umm Kulsum menolak pinangan tersebut. Alasannya cukup menohok. Ia menyebut Umar sebagai pria yang hidupnya kasar dan sangat keras terhadap perempuan.

Penolakan serupa bukan sekali itu saja menimpa sang khalifah. Umar juga pernah melayangkan lamaran kepada Umm Aban binti Utbah bin Rabi'ah. Respons yang didapatkannya setali tiga uang. Umm Aban menolak Umar dengan alasan yang tidak kalah blak-blakan.

Ia menilai Umar sebagai pria yang kikir dan kerap keluar masuk rumah dengan muka merengut. Dua potret penolakan ini menjadi lembaran pembuka yang menarik untuk membedah sisi domestik sang Amirulmukminin.

Di balik reputasinya yang menggetarkan dua imperium besar, Persia dan Romawi, urusan asmara Umar rupanya penuh dengan dinamika dan kerikil tajam.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa dorongan Umar untuk membangun rumah tangga yang besar bermula sejak masa mudanya mencapai kematangan.

Fenomena kecenderungan memiliki banyak istri ini merupakan warisan dari konstruksi sosial masyarakat Quraisy pada masa itu. Motif utamanya adalah kalkulasi sosial untuk mendapatkan keturunan atau anak dalam jumlah banyak.

Sepanjang perjalanan hidupnya, Umar tercatat mengawini sembilan perempuan. Dari rahim dan jalur pernikahan tersebut, lahir 12 orang anak yang terdiri atas delapan anak laki-laki dan empat anak perempuan.

Struktur Silsilah

Data mengenai silsilah keluarga Umar terekam secara rinci dalam dokumen sejarah. Dari pernikahan pertamanya dengan Zainab putri Maz'un, lahir Abdur-Rahman dan Hafsah. Hafsah di kemudian hari dikenal sebagai salah satu istri Nabi Muhammad.

Umar juga menikahi Umm Kulsum putri Ali bin Abi Talib yang melahirkan Zaid senior dan Ruqayyah. Dari istri lainnya, Umm Kulsum binti Jarul bin Malik, lahir Zaid junior dan Ubaidillah.

Kehadiran Islam di kemudian hari membawa konsekuensi yuridis terhadap ikatan pernikahan Umar. Regulasi hukum Islam mengharuskan pemisahan atau perceraian antara Umar dan Umm Kulsum binti Jarul karena perbedaan keyakinan.

Selain itu, Umar juga mengawini Jamilah binti Sabit bin Abi al-Aflah yang melahirkan Asim. Nama Jamilah sendiri memiliki riwayat unik, di mana nama aslinya adalah Asiyah. Rasulullah kemudian mengubah nama tersebut secara langsung dengan berkata, "Sebenarnya engkau Jamilah".

Pernikahan Umar berikutnya adalah dengan Umm Hakam putri al-Haris bin Hisyam bin al-Mugirah yang melahirkan Fatimah, serta dengan Atikah binti Zaid bin Amr yang melahirkan Iyad.

Di samping jajaran istri sah, Umar memiliki keturunan dari hamba sahaya, sebuah praktik yang sah secara hukum sosial waktu itu.

Dari hamba sahaya bernama Luhayyah, lahir Abdur-Rahman yang merupakan anak menengah. Sementara dari Fukaihah, lahir Zaid yang menjadi anak bungsu Umar.

Di kalangan sejarawan, data mengenai nama ibu dari Abdur-Rahman junior masih menjadi perdebatan, meski disepakati bahwa ibunya juga seorang hamba sahaya.

Secara periodisasi geografis, Umar menikahi empat perempuan sewaktu masih menetap di Makkah, dan baru menikahi perempuan kelima setelah melakukan hijrah ke Medinah.

Kendati memiliki banyak istri dalam catatan sejarahnya, Umar tidak pernah mengumpulkan kesembilan perempuan tersebut secara bersamaan di dalam satu rumah.

Mekanisme perceraian dan regulasi agama menjadi faktor pembatasnya. Beberapa istri yang tercatat diceraikan oleh Umar antara lain Umm Hakam binti al-Haris dan Jamilah binti Sabit.

Karakter Keras

Kritik tajam yang dilayangkan oleh Umm Kulsum binti Abu Bakr dan Umm Aban mengenai watak keras Umar bukanlah sebuah isapan jempol. Karakter tegar, kaku, dan serba keras tersebut memang sudah melekat sejak masa mudanya dan terus bertahan sepanjang hayat.

Umar mewarisi sikap keras tersebut secara genetik dan pola asuh dari ayahnya. Watak ini didukung pula oleh kondisi fisik tubuhnya yang tegap, kekar, dan kuat.

Umar sendiri sangat menyadari kelemahan psikologisnya ini. Kesadaran tersebut tercermin dalam teks doa pertamanya sesaat setelah resmi dilantik menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar.

Di hadapan publik, Umar bermunajat, "Allahumma ya Allah, aku sungguh tegar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah, aku ini lemah, berilah aku kekuatan. Ya Allah aku sungguh kikir jadikanlah aku orang pemurah".

Tuduhan kebakhilan atau sifat kikir yang dialamatkan kepada Umar sebenarnya berkelindan dengan realitas ekonomi domestiknya.

Sepanjang hidupnya, Umar berada dalam keadaan ekonomi yang sangat sederhana. Faktor ini juga merupakan warisan keluarga, mengingat ayahnya pun bukan termasuk golongan orang kaya di Makkah.

Meskipun Umar menekuni profesi sebagai pedagang sebagaimana mayoritas penduduk Makkah, ia tidak pernah mencapai tahapan kaya raya.

Wataknya yang keras disinyalir menjadi penyebab utama mengapa ia tidak pernah beruntung dalam urusan perniagaan jika dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya. Dalam ungkapan metaforis masyarakat Quraisy, Umar dinilai sebagai sosok yang tidak pernah dapat mengeluarkan air dari batu atau mengubah tanah menjadi emas dalam konteks bisnis.

Intelektualisme

Ketidakberuntungan Umar dalam menumpuk kekayaan materi bukan tanpa alasan substantif. Saat melakukan perjalanan dagang lintas negara—baik pada musim panas maupun musim dingin ke wilayah Yaman, Syam, Persia, hingga Romawi—Umar memiliki orientasi yang berbeda.

Ia lebih mengutamakan misi mencerdaskan pikiran dan menambah wawasan daripada sekadar berfokus pada pengembangan profit perdagangannya.

Berdasarkan data dari kitab Muruj az-Zahab karya Al-Mas'udi, selama melakukan pelbagai perjalanan di masa jahiliah, Umar memanfaatkan waktu untuk menemui pemuka-pemuka Arab dan bertukar pikiran dengan mereka.

Kapasitasnya yang sering ditunjuk sebagai utusan resmi pihak Quraisy, luasnya pengetahuan mengenai silsilah Arab, serta pemahamannya yang mendalam terhadap cerita rakyat dan buku-buku bacaan pada masa itu, menegaskan bahwa Umar adalah seorang intelektual.

Seluruh aktivitas safarnya lebih banyak dikonversi untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan ketimbang memburu akumulasi modal.

Dinamika domestik dan rekam jejak perkawinan Umar bin Khattab memberikan perspektif yang humanis sekaligus realistis.

Di satu sisi, ia adalah representasi pemimpin yang rigid, berwatak keras, dan hidup dalam garis kemiskinan yang asketis. Di sisi lain, catatan mengenai sembilan istri dan penolakan-penolakan yang diterimanya menunjukkan bahwa institusi keluarga Umar dibangun di atas kejujuran karakter tanpa kepalsuan pencitraan.

Umar tidak pernah menggunakan kekuasaan politiknya untuk memaksakan kehendak di bilik asmara, sebuah teladan mendalam tentang bagaimana keadilan dan ketegasan ditegakkan, baik di atas mimbar negara maupun di dalam ruang keluarga.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 15 Juni 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:57
Ashar
15:18
Maghrib
17:49
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)