Ulama dan Pilihan Politik
Tim langit 7
Kamis, 07 Desember 2023 - 10:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Ustadz Shamsi Ali
Diaspora Indonesia dan Imam di kota New York
Penulis kali ini memakai gelar “Ustadz” di depan namanya. Sebuah gelar yang lebih dikenal di Indonesia sebagai seseorang yang memiliki keilmuan Islam dan bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan. Walaupun kata ini juga bisa berarti “professor” (guru besar). Tapi bisa juga sekedar panggilan penghormatan untuk seseorang. Seorang tukang roti di Mesir juga biasa disapa “ya Ustadz”.
Selama ini dalam kapasitas saya di bidang keagamaan telah digelari macam-macam. Pernah digelari Kyai, Maulana atau Malvi (gelar guru agama di India Pakistan), Huzur (Bangladesh), dan juga Syeikh di kalangan masyarakat Arab. Kata Imam sendiri adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh warga kepada tokoh agama di Amerika dan dunia Barat secara umum. Yang semua itu sesungguhnya tidak penting. Yang lebih penting adalah substansi dari gelar-gelar itu.
Pada tulisan ini sengaja saya memakai kata “ustadz” karena gelar inilah yang paling populer dan umum di gunakan untuk guru dan tokoh agama di Indonesia. Juga karena saya ingin menjawab banyak pertanyaan yang masuk ke media sosial saya tentang “perlunya para Ustadz menentukan pilihan politik”.
Saya ingin memulai dengan menekankan sekali lagi bahwa politik adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Politik adalah “siasatul hayaah” (menejemen hidup) dalam segala aspeknya. Makanya kita kenal “politik ekonomi”, “politik hubungan internasional” dan seterusnya. Intinya tak ada satu orang pun yang bisa melepaskan diri dari politik.
Baca juga:Menghadirkan Tatanan Dunia yang Adil
Diaspora Indonesia dan Imam di kota New York
Penulis kali ini memakai gelar “Ustadz” di depan namanya. Sebuah gelar yang lebih dikenal di Indonesia sebagai seseorang yang memiliki keilmuan Islam dan bergerak di bidang pendidikan dan keagamaan. Walaupun kata ini juga bisa berarti “professor” (guru besar). Tapi bisa juga sekedar panggilan penghormatan untuk seseorang. Seorang tukang roti di Mesir juga biasa disapa “ya Ustadz”.
Selama ini dalam kapasitas saya di bidang keagamaan telah digelari macam-macam. Pernah digelari Kyai, Maulana atau Malvi (gelar guru agama di India Pakistan), Huzur (Bangladesh), dan juga Syeikh di kalangan masyarakat Arab. Kata Imam sendiri adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh warga kepada tokoh agama di Amerika dan dunia Barat secara umum. Yang semua itu sesungguhnya tidak penting. Yang lebih penting adalah substansi dari gelar-gelar itu.
Pada tulisan ini sengaja saya memakai kata “ustadz” karena gelar inilah yang paling populer dan umum di gunakan untuk guru dan tokoh agama di Indonesia. Juga karena saya ingin menjawab banyak pertanyaan yang masuk ke media sosial saya tentang “perlunya para Ustadz menentukan pilihan politik”.
Saya ingin memulai dengan menekankan sekali lagi bahwa politik adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Politik adalah “siasatul hayaah” (menejemen hidup) dalam segala aspeknya. Makanya kita kenal “politik ekonomi”, “politik hubungan internasional” dan seterusnya. Intinya tak ada satu orang pun yang bisa melepaskan diri dari politik.
Baca juga:Menghadirkan Tatanan Dunia yang Adil