LANGIT7.ID-, Jakarta - - Dalam fenomena masyarakat hari ini, sering kali ukuran kesuksesan berasal dari aspek materi dan kemewahan lahiriah, padahal Islam menawarkan sebuah konsep fundamental mengenai orientasi
kebahagiaan yang sejati. Konsep tersebut adalah
Al-Ghina (kekayaan yang hakiki).Secara esensial, al-ghina bukanlah melimpahnya aset atau tumpukan
harta benda, melainkan kekayaan jiwa dan rasa rela (kesadaran merasa cukup) terhadap apa yang ada pada diri manusia serta apa yang ada di tangan mereka. Ketika seseorang berhasil meraih kemandirian hati ini, ia tidak akan mudah silau, iri, atau bergantung pada apa yang dimiliki oleh orang lain.
Baca juga: Syafaat di Hari Akhir, Ini 7 Cara Perkaya Jiwa dengan Al-QuranPrinsip dasar mengenai kekayaan jiwa ini berkaitan erat dengan potret manusia yang paling beruntung di dunia. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Amr RA, Rasulullah ﷺ mengurai tiga pilar keberuntungan sejati tersebut:
قَدْ أَفْلَحَ مَن أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بما آتاهُ
Artinya:
"Sungguh beruntung orang yang berserah diri (masuk Islam), dianugerahi rezeki yang cukup (kafaf), dan Allah jadikannya qana'ah (merasa puas) dengan apa yang Allah berikan kepadanya." (HR Muslim).
Melalui hadis yang menjadi salah satu riwayat khas (
min afradi) Imam Muslim atas Imam Al-Bukhari ini, kita dapat membedah korelasi kuat antara ketundukan iman, kecukupan materi, dan kekayaan jiwa:
Pertama, kepasrahan total
(aslama). Fondasi utama dari segala keberuntungan adalah ketika seseorang memeluk Islam dan berserah diri sepenuhnya kepada syariat Allah. Ini adalah gerbang awal yang menata sudut pandang seorang hamba dalam melihat dunia dan akhirat secara proporsional.
Kedua, kecukupan yang menjaga (ruziqa kafafan). Keberuntungan berikutnya ditandai dengan karunia rezeki yang bersifat kafaf. Maknanya, rezeki tersebut pas dengan kebutuhan dasarnya, tidak kurang hingga membuatnya menderita atau meminta-minta, dan tidak berlebih secara ekstrem hingga berpotensi membuatnya sombong, lalai, atau menzalimi orang lain.
Baca juga: 4 Kisah Nyata Muslim Membangun Kekayaan Melalui Prinsip-Prinsip IslamKetiga, kekayaan jiwa yang menenteramkan (qana'ah). Puncak dari mata rantai ini adalah ketika Allah SWT mengaruniakan sifat qana'ah ke dalam hatinya. Sifat ini membuat seseorang selalu rida, bersyukur, dan merasa cukup atas setiap takdir pembagian rezeki yang diterimanya dari Allah.
Ketika sifat qana'ah telah merasuk ke dalam dada, di situlah hakikat Al-Ghina atau kekayaan jiwa itu termaterialisasi. Orang yang memiliki kekayaan jiwa tidak akan pernah diperbudak oleh ambisi yang tiada habisnya, sebab ia memahami bahwa ketenangan hidup bermula dari hati yang penuh syukur, bukan dari genggaman tangan yang penuh dengan urusan duniawi.
(est)