LANGIT7.ID- Qarun muncul di Al-Qur’an sebagai simbol kecemerlangan ekonomi yang berbalut keangkuhan. Dalam Surah Al-Qashash [28], ia digambarkan memiliki harta yang kuncinya saja harus dipikul beberapa orang kuat. Namun kisahnya berakhir tragis: ia ditelan bumi bersama seluruh kekayaannya.
Menurut mufasir, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam
Tafsir Al-Misbah, awal kejatuhan Qarun bermula bukan dari jumlah harta, melainkan dari siapa yang ia yakini sebagai sumbernya. Saat kaumnya menasihati agar ia tidak sombong, Qarun menjawab: Aku diberi itu semua karena ilmu yang ada padaku (QS Al-Qashash [28]: 78). Ia menisbatkan kesuksesan pada dirinya sendiri.
Sebagian riwayat klasik, seperti karya Ibn Katsir dalam
Al-Bidayah wan Nihayah, menyebut Qarun masih punya hubungan keluarga dengan Nabi Musa. Ia dulunya dikenal ahli ibadah dan penghafal Taurat, kemudian berubah seiring bertambahnya kekayaan.
Quraish Shihab menjelaskan, kesombongan Qarun tampak dalam tiga bentuk:
1. Menolak nasihat publik dan menganggap dirinya lebih tahu.
2. Mengeksploitasi masyarakat melalui rente dan ketimpangan akses pada harta.
3. Menjadikan kekayaan sebagai identitas superioritas sosial.
Di sisi lain, Al-Qur’an mengisahkan euforia sebagian warga yang terbius oleh glamor kekayaan Qarun. Mereka berkata: Andai kita punya seperti apa yang diberikan kepada Qarun (QS Al-Qashash [28]: 79). Namun setelah hukuman datang, mereka menyesali kekaguman itu: Sungguh Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya… (QS Al-Qashash [28]: 82).
Dalam perspektif ekonomi modern, para ilmuwan perilaku menyebut fenomena Qarun effect: ketika kekayaan ekstrem menurunkan empati dan memupuk ilusi bahwa keberhasilan hanyalah hasil kerja keras pribadi. Riset Paul Piff (UC Berkeley, 2012) menemukan bahwa semakin tinggi status ekonomi seseorang, semakin besar kecenderungan mereka mengabaikan etika sosial.
Qarun menjadi cermin bahwa rezim harta tanpa etika bisa menghancurkan stabilitas moral masyarakat. Dalam kisah itu, hukuman bukan sekadar pembalasan, tetapi koreksi sosial atas kultus materialisme.
Muhammad Asad, dalam The Message of the Qur’an, menekankan bahwa kisah Qarun adalah peringatan universal: kepemilikan bukan alasan untuk berbangga diri, melainkan amanah yang harus menyejahterakan.
---
Maka mengapa Allah menghukumnya? Al-Qur’an memberi jawab jelas: karena Qarun mengingkari sumber dan tujuan nikmat; karena ia menggunakan kekayaan untuk meninggikan dirinya, bukan membela kemanusiaan. Ia memutus hubungan antara karunia dan syukur — dan di situlah bumi kembali menelan manusia yang melupakan pijakannya.
Qarun pun tenggelam bersama kunci-kuncinya.
(mif)