Quraish Shihab: Corak Tafsir Beda-beda. Jangan Cepat Permasalahkan
Muhajirin
Kamis, 07 Desember 2023 - 18:25 WIB
Cendekiawan muslim Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab
Pakar Tafsir Al-Qur’an, Prof. Quraish Shihab, mengungkapkan, tafsir Al-Qur'an merupakan upaya manusia untuk menjelaskan maksud dari firman Allah yang sesuai dengan kemampuan manusia. Maka itu, corka tafsir bisa berbeda antara satu mufassir dengan mufassir lain.
Kemampuan manusia bertingkat-tingkat dan kecenderungan individu berbeda-beda. Hal ini menghasilkan corak tafsir yang beragam, bahkan bisa menciptakan penafsiran yang bertolak belakang satu sama lain. Kendati begitu, seorang muslim tidak langsung mempermasalahkan perbedaan tersebut.
"Corak tafsir (Al-Qur'an) itu berbeda-beda, bahkan bisa jadi ada penafsiran antara satu dengan yang lain sedemikian berbeda sehingga dinilai bertolak belakang. Jangan cepat-cepat mempersalahkan," ucapnya dalam acara Ngaji Bareng di Universitas Islam Yogyakarta, Rabu (6/12/2023).
Prof Quraish memberikan contoh sederhana, yakni seputar konsep nikah dalam Al-Qur'an. Dia menekankan, pandangan berbeda tentang arti nikah bisa menghasilkan penafsiran yang berlawanan. Misalnya, apakah nikah itu lebih kepada akad atau hubungan seks.
Baca juga:Pujian Prof Quraish Shihab pada Gus Baha: Orang Alim Besar tapi Sembunyi
"Apa artinya nikah? Walaa tankihu ma nakaha minan nisa. Nikah itu akad atau hubungan seks? Kalau saya berkata nikah itu akad, maka seorang ayah yang berhubungan seks dengan seorang wanita, lalu wanita itu hendak dikawini oleh anaknya, boleh tidak? Boleh. Karena dia tidak menikah. Tapi kalau kita berkata nikah adalah hubungan seks, berlawanan. Jadi kita harus menoleransi ini," jelasnya.
Dia menegaskan pentingnya ulama dalam menjawab problema-problema yang relevan dengan masyarakat setempat. Ia pun mengkritisi beberapa tafsir lama yang dianggap memberikan solusi terhadap problema tertentu, bukan problema yang dihadapi oleh masyarakat saat ini.
Kemampuan manusia bertingkat-tingkat dan kecenderungan individu berbeda-beda. Hal ini menghasilkan corak tafsir yang beragam, bahkan bisa menciptakan penafsiran yang bertolak belakang satu sama lain. Kendati begitu, seorang muslim tidak langsung mempermasalahkan perbedaan tersebut.
"Corak tafsir (Al-Qur'an) itu berbeda-beda, bahkan bisa jadi ada penafsiran antara satu dengan yang lain sedemikian berbeda sehingga dinilai bertolak belakang. Jangan cepat-cepat mempersalahkan," ucapnya dalam acara Ngaji Bareng di Universitas Islam Yogyakarta, Rabu (6/12/2023).
Prof Quraish memberikan contoh sederhana, yakni seputar konsep nikah dalam Al-Qur'an. Dia menekankan, pandangan berbeda tentang arti nikah bisa menghasilkan penafsiran yang berlawanan. Misalnya, apakah nikah itu lebih kepada akad atau hubungan seks.
Baca juga:Pujian Prof Quraish Shihab pada Gus Baha: Orang Alim Besar tapi Sembunyi
"Apa artinya nikah? Walaa tankihu ma nakaha minan nisa. Nikah itu akad atau hubungan seks? Kalau saya berkata nikah itu akad, maka seorang ayah yang berhubungan seks dengan seorang wanita, lalu wanita itu hendak dikawini oleh anaknya, boleh tidak? Boleh. Karena dia tidak menikah. Tapi kalau kita berkata nikah adalah hubungan seks, berlawanan. Jadi kita harus menoleransi ini," jelasnya.
Dia menegaskan pentingnya ulama dalam menjawab problema-problema yang relevan dengan masyarakat setempat. Ia pun mengkritisi beberapa tafsir lama yang dianggap memberikan solusi terhadap problema tertentu, bukan problema yang dihadapi oleh masyarakat saat ini.