Tulisan Satir, Senjata Ahmad Murtaja Hadapi Kematian di Jalur Gaza
Muhajirin
Kamis, 28 Desember 2023 - 08:00 WIB
ilustrasi
Ahmad Murtaja, seorang pemuda berusia 28 tahun, menggunakan tulisan satir sebagai senjata untuk menghadapi kematian di Jalur Gaza.
“Saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini. Apakah yang terjadi pada kami nyata?” kata Ahmad Murtaja, dikutip dari Aljazeera, Selasa (26/12).
Dalam pembantaian yang dilakukan teroris Israel di Jalur Gaza selama tiga bulan berturut-turut, Ahmad melihatnya sebagai "situasi konyol" yang dihadapi oleh semua orang di seluruh dunia.
Ahmad mengatakan, situasi sekitar membuatnya terprovokasi untuk melakukan sesuatu. Rasa ketidakberdayaan di hadapan semua yang terjadi sangat sulit dan menyakitkan, bahkan, jika tidak mengalami penderitaan fisik seperti korban oleh hujan peluru yang terus menerus menimpa wilayah kecil ini, baik di darat, udara, maupun laut.
“Saya bukan seorang penulis, saya hanya orang yang terprovokasi oleh kenyataan, jadi saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini,” ujarnya.
Ahmad dan keluarganya selamat dari serangan udara Israel yang menghancurkan rumah mereka di distrik Shejaiya di timur Kota Gaza, Jalur Gaza utara. Mereka mencari tempat berlindung di dalam kota, dan setiap kali, menit-menit krusial menentukan kelangsungan hidup mereka dari kematian yang pasti.
Ahmad adalah lulusan psikologi dari Universitas Islam di Gaza. Belum menikah, ia tinggal bersama keluarganya di distrik Shejaiya, yang namanya mencuat dalam berita perang sebagai salah satu distrik yang paling banyak diserang dan dihancurkan di Gaza. Distrik ini, menurut pengakuan para pemimpin Israel, menghadapi perlawanan sengit dari pejuang Palestina.
“Saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini. Apakah yang terjadi pada kami nyata?” kata Ahmad Murtaja, dikutip dari Aljazeera, Selasa (26/12).
Dalam pembantaian yang dilakukan teroris Israel di Jalur Gaza selama tiga bulan berturut-turut, Ahmad melihatnya sebagai "situasi konyol" yang dihadapi oleh semua orang di seluruh dunia.
Ahmad mengatakan, situasi sekitar membuatnya terprovokasi untuk melakukan sesuatu. Rasa ketidakberdayaan di hadapan semua yang terjadi sangat sulit dan menyakitkan, bahkan, jika tidak mengalami penderitaan fisik seperti korban oleh hujan peluru yang terus menerus menimpa wilayah kecil ini, baik di darat, udara, maupun laut.
“Saya bukan seorang penulis, saya hanya orang yang terprovokasi oleh kenyataan, jadi saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini,” ujarnya.
Ahmad dan keluarganya selamat dari serangan udara Israel yang menghancurkan rumah mereka di distrik Shejaiya di timur Kota Gaza, Jalur Gaza utara. Mereka mencari tempat berlindung di dalam kota, dan setiap kali, menit-menit krusial menentukan kelangsungan hidup mereka dari kematian yang pasti.
Ahmad adalah lulusan psikologi dari Universitas Islam di Gaza. Belum menikah, ia tinggal bersama keluarganya di distrik Shejaiya, yang namanya mencuat dalam berita perang sebagai salah satu distrik yang paling banyak diserang dan dihancurkan di Gaza. Distrik ini, menurut pengakuan para pemimpin Israel, menghadapi perlawanan sengit dari pejuang Palestina.