Produk Kain Sasirangan Berpotensi Bangkitkan Perekonomian Kalsel
Garry Talentedo Kesawa
Kamis, 02 September 2021 - 19:54 WIB
Kain Sasirangan, kain adat khas Suku Banjar. (Foto: Kemenparekraf)
Kain adat khas Suku Banjar yaitu Sasirangan, diyakini dapat membangkitkan perekonomian di Kalimantan Selatan. Hal tersebut diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno saat meninjau sentra inkubasi produk ekraf di Banjarmasin, Kamis (2/9).
Menurut Sandiaga, kain sasirangan memiliki potensi besar untuk membangkitkan perekonomian wilayah tersebut. Produk sasirangan juga memiliki keunikan yang berdaya saing tinggi.
"Kita harus fokus, saya yakin produk ekonomi kreatif di Kalimantan ini adalah sasirangan. Kita lihat Kalimantan Selatan ingat sasirangan, ingat Banjarmasin Selatan ingat sasirangan," kata Sandiaga.
Sasirangan merupakan kain adat Indonesia yang berasal dari Suku Banjar, Kalimantan Selatan. Nama sasirangan diambil dari kata menyirang, yang merujuk pada cara membuat kain sasirangan melalui proses menjelujur menggunakan perintangan dan pewarnaan.
Baca juga:Sandiaga Targetkan 4.000 Pelaku Parekraf di DSP Labuan Bajo Dapat Vaksinasi
Berdasarkan cerita adat setempat, kain yang berasal dari abad ke-12 ini dipercaya memiliki kekuatan magis untuk pengobatan dan perlindungan dari roh-roh jahat. Hal tersebut yang kemudian mempengaruhi pewarnaan pada kain sasirangan.
Seperti jika akan digunakan untuk mengobati penyakit kuning, maka warna kain juga dibuat kuning. Semua bahan pewarna kain sasirangan diambil dari alam, seperti biji buah gandaria, jahe, kunyit, dan kulit rambutan.
Menurut Sandiaga, kain sasirangan memiliki potensi besar untuk membangkitkan perekonomian wilayah tersebut. Produk sasirangan juga memiliki keunikan yang berdaya saing tinggi.
"Kita harus fokus, saya yakin produk ekonomi kreatif di Kalimantan ini adalah sasirangan. Kita lihat Kalimantan Selatan ingat sasirangan, ingat Banjarmasin Selatan ingat sasirangan," kata Sandiaga.
Sasirangan merupakan kain adat Indonesia yang berasal dari Suku Banjar, Kalimantan Selatan. Nama sasirangan diambil dari kata menyirang, yang merujuk pada cara membuat kain sasirangan melalui proses menjelujur menggunakan perintangan dan pewarnaan.
Baca juga:Sandiaga Targetkan 4.000 Pelaku Parekraf di DSP Labuan Bajo Dapat Vaksinasi
Berdasarkan cerita adat setempat, kain yang berasal dari abad ke-12 ini dipercaya memiliki kekuatan magis untuk pengobatan dan perlindungan dari roh-roh jahat. Hal tersebut yang kemudian mempengaruhi pewarnaan pada kain sasirangan.
Seperti jika akan digunakan untuk mengobati penyakit kuning, maka warna kain juga dibuat kuning. Semua bahan pewarna kain sasirangan diambil dari alam, seperti biji buah gandaria, jahe, kunyit, dan kulit rambutan.