LANGIT7.ID- Dunia modern hari ini barangkali sedang mabuk oleh apa yang kita sebut sebagai budaya selebritis. Di layar kaca hingga gawai di genggaman, sosok-sosok dengan pengikut jutaan menjadi rujukan utama dalam segala hal, mulai dari gaya hidup hingga persoalan moral dan agama. Namun, jauh sebelum algoritma media sosial mendikte selera publik, sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, telah memberikan peringatan keras mengenai daya tarik semu dari sebuah kemasyhuran.
Dalam buku
Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat karya Idries Shah, yang diterjemahkan oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha, terdapat sebuah gugatan retoris yang sangat mendalam. Al-Ghazali mengajukan analogi yang tajam: jika seseorang terbebas dari terkaman singa buas, apakah ia akan peduli apakah penyelamatnya itu seorang pesohor atau orang biasa yang tidak dikenal? Tentu saja tidak. Fokus utama seharusnya adalah keselamatan itu sendiri, bukan siapa yang membawa keselamatan tersebut. Logika ini kemudian dibawa al-Ghazali ke dalam ranah pencarian ilmu: mengapa kita sibuk mencari pengetahuan hanya dari para selebritis atau mereka yang memiliki nama besar?
Kritik al-Ghazali ini bukan tanpa alasan. Dalam adikaryanya,
Ihya Ulumuddin, ia membedah penyakit hati yang disebut
jah atau haus akan kedudukan dan popularitas. Menurut al-Ghazali, banyak orang terjebak dalam prasangka bahwa kebenaran hanya milik mereka yang masyhur. Padahal, kemasyhuran sering kali menjadi tirai yang menutupi kekurangan seseorang atau bahkan menjadi beban yang merusak keikhlasan sang tokoh itu sendiri.
Dalam sebuah karya ilmiah bertajuk
Konsep Popularitas dalam Perspektif Tasawuf Al-Ghazali, disebutkan bahwa daya tarik selebritis sering kali memicu fenomena taklid buta. Publik cenderung menerima apa pun yang diucapkan oleh tokoh idola tanpa melakukan verifikasi atau tabayun. Al-Ghazali memandang ini sebagai kelemahan akal. Baginya, kebenaran memiliki substansi mandiri yang tidak bergantung pada siapa yang mengucapkannya.
Fenomena ini selaras dengan peringatan dalam Al-Quran mengenai kecenderungan manusia yang hanya mengikuti mayoritas atau mereka yang dianggap tinggi kedudukannya secara sosial tanpa landasan ilmu. Sebuah dalil yang relevan dalam konteks ini adalah:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًاArtinya:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra: 36).
Al-Ghazali menekankan bahwa setiap individu bertanggung jawab secara personal atas pengetahuan yang mereka serap. Menggantungkan standar kebenaran pada selebritas adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab intelektual. Di mata sang sufi, seorang guru atau penyampai pesan hanyalah perantara. Jika fokus audiens teralihkan pada pesona pribadi, retorika yang memukau, atau kemegahan status sang tokoh, maka esensi pesan tersebut justru akan lenyap.
Lebih jauh lagi, Idries Shah dalam ulasannya mengenai pemikiran al-Ghazali menunjukkan bahwa keterikatan pada nama besar sebenarnya adalah manifestasi dari ego. Manusia merasa lebih bergengsi jika menjadi pengikut seseorang yang terkenal. Di sinilah letak bahayanya: ilmu tidak lagi dicari untuk perbaikan batin, melainkan untuk aksesori sosial.
Dalam perspektif sosiologi pengetahuan yang sering dikaitkan dengan kritik al-Ghazali, otoritas seseorang seharusnya dibangun atas dasar kafaah atau kompetensi dan ketakwaan, bukan atas dasar popularitas yang bisa direkayasa. Al-Ghazali mengajak kita kembali ke fitrah pencarian ilmu yang sunyi dari pamrih duniawi. Jika kebenaran itu datang dari lisan seorang penggembala di padang pasir yang tak dikenal satu orang pun, kebenaran itu tetaplah emas yang harus diambil. Sebaliknya, jika kebatilan keluar dari lisan seorang selebritis yang dipuja jutaan orang, ia tetaplah sampah yang harus dibuang.
Akhirnya, refleksi dari pemikiran al-Ghazali ini menjadi cermin bagi kita di tengah gempuran konten digital. Apakah kita mengikuti seorang tokoh karena kedalaman ilmunya, atau sekadar karena ia sedang berada di puncak panggung popularitas? Al-Ghazali mengingatkan bahwa di hadapan kebenaran, semua nama besar akan luluh, dan yang tersisa hanyalah substansi yang menyelamatkan jiwa dari terkaman singa kebodohan.
(mif)