Jujur Jadi Kunci Ketenangan Hidup
Muhajirin
Senin, 29 Januari 2024 - 09:00 WIB
ilustrasi
Kejujuran saat ini adalah komoditas yang berharga. Manusia seringkali mudah berbohong hanya demi kepentingan dan menutupi ketidakmampuan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kejujuran berarti kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Tekad yang tak tergoyahkan. Atau, kesesuaian antara informasi dan fakta yang terjadi.
Pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir (UBN), mengungkapkan, saat ini menemukan orang pintar itu mudah. Namun, menemukan orang pintar yang jujur adalah hal yang sulit. Ternyata kecerdasan tidak berbanding lurus dengan kejujuran.
“Belum tentu orang pintar juga orang jujur. Memang ini adalah situasi yang berbahaya. Kita lihat saat ini, para koruptor kebanyakan adalah orang-orang pintar. Entah itu ilmu agama atau ilmu pengetahuan. Namun, merekalah yang menyebabkan kerusakan parah di negeri ini,” ujar UBN dalam tausiahnya di AQL Islamic Center, Jakarta, dikutip Rabu (24/1/2024)
Apalagi di pemilu seperti ini, perkataan yang jujur dan adil harus dijunjung tinggi; menjadi barang mahal. Banyak orang jujur saat ini yang harus membayar konstituen karena banyak pembohong yang melakukan kejahatan dengan membayar konstituen. Sehingga mau tidak mau, orang-orang yang jujur dan baik kemudian terjebak dalam sistem yang jahat.
Baca juga:Muhammadiyah Sebut 7 Kriteria Pilih Calon Pemimpin
“Nanti dari rangkaian proses inilah lahirlah pemimpin-pemimpin yang berbohong. Pemimpin yang bisa ditawar dengan ungkapan ‘wani piro’ dan kita akan terus dibohongi dan membohongi diri sendiri karena ikut serta di dalamnya,” kata UBN.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kejujuran berarti kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Tekad yang tak tergoyahkan. Atau, kesesuaian antara informasi dan fakta yang terjadi.
Pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir (UBN), mengungkapkan, saat ini menemukan orang pintar itu mudah. Namun, menemukan orang pintar yang jujur adalah hal yang sulit. Ternyata kecerdasan tidak berbanding lurus dengan kejujuran.
“Belum tentu orang pintar juga orang jujur. Memang ini adalah situasi yang berbahaya. Kita lihat saat ini, para koruptor kebanyakan adalah orang-orang pintar. Entah itu ilmu agama atau ilmu pengetahuan. Namun, merekalah yang menyebabkan kerusakan parah di negeri ini,” ujar UBN dalam tausiahnya di AQL Islamic Center, Jakarta, dikutip Rabu (24/1/2024)
Apalagi di pemilu seperti ini, perkataan yang jujur dan adil harus dijunjung tinggi; menjadi barang mahal. Banyak orang jujur saat ini yang harus membayar konstituen karena banyak pembohong yang melakukan kejahatan dengan membayar konstituen. Sehingga mau tidak mau, orang-orang yang jujur dan baik kemudian terjebak dalam sistem yang jahat.
Baca juga:Muhammadiyah Sebut 7 Kriteria Pilih Calon Pemimpin
“Nanti dari rangkaian proses inilah lahirlah pemimpin-pemimpin yang berbohong. Pemimpin yang bisa ditawar dengan ungkapan ‘wani piro’ dan kita akan terus dibohongi dan membohongi diri sendiri karena ikut serta di dalamnya,” kata UBN.