Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 10 Juli 2026
home masjid detail berita

Wasiat Agung Rasulullah Saat Utus Muadz bin Jabal ke Yaman

ahmad zuhdi Jum'at, 10 Juli 2026 - 06:00 WIB
Wasiat Agung Rasulullah Saat Utus Muadz bin Jabal ke Yaman
Wasiat Agung Rasulullah Saat Utus Muadz bin Jabal ke Yaman. Foto: Ist
LANGIT7.ID-, Jakarta - - Keputusan strategis sering kali lahir dari pertimbangan kepakaran yang matang, tidak terkecuali dalam sejarah dakwah Islam. Ketika Rasulullah SAW menunjuk Mu’adz bin Jabal untuk mengemban tugas sebagai dai sekaligus qadhi (hakim) di wilayah Yaman pasca-Perang Tabuk, penunjukan tersebut didasarkan pada rekam jejak kecerdasan sang sahabat.

Diangkatnya pemuda Anshar dari kaum Khazraj ini tidak lepas dari kapasitas keilmuannya yang mendalam, bahkan Rasulullah SAW sendiri menjulukinya sebagai sosok yang paling paham (faqih) serta ahli dalam melantunkan dan memahami isi Al-Qur'an (qari’ul qur’an).

Baca juga: Doa Wasiat Rasulullah SAW agar Jadi Kekasih Allah

Sebelum melepas keberangkatannya ke Yaman, sebuah dialog panjang terjadi antara Rasulullah SAW dan Mu’adz bin Jabal. Di hadapan sang Nabi, Mu’adz menegaskan komitmennya untuk memutus perkara hukum berlandaskan Kitabullah. Jika tidak menemukannya, ia akan merujuk pada Sunah Rasulullah, dan apabila tetap belum mendapati ketentuannya, dengan tegas ia menyatakan akan berijtihad menggunakan akalnya secara maksimal.

Mendengar jawaban yang sangat metodologis tersebut, Rasulullah SAW langsung memuji Allah SWT atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepada utusan beliau. Sesaat sebelum Mu'adz menaiki kendaraannya untuk memulai perjalanan jauh tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan seuntai pesan pemungkas yang sangat monumental. Wasiat agung tersebut berbunyi:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, ikutkanlah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik." (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Ketua PW Persis DKI Jakarta, KH Sofyan Munawar, menguraikan bahwa wasiat ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena merangkum dua dimensi hak yang wajib dipenuhi oleh setiap hamba, yaitu hubungan vertikal kepada Sang Pencipta (hablun minallah) dan hubungan horizontal antarsesama makhluk (hablun minannas).

"Di samping itu, perintah untuk menjaga ketakwaan ini bersifat universal karena sebelumnya juga telah dititipkan oleh Allah SWT kepada umat-umat terdahulu pemilik kitab suci, sebagaimana diabadikan dalam Surah An-Nisa ayat 131," ujar Ustaz Sofyan dalam tausiyah yang dikutip, Kamis (9/7/2026).

Baca juga: Kisah Terjadinya Polarisasi Pendapat di Antara Sahabat Terkait Penulisan Wasiat Akhir

Dalam penggunaannya di dalam Al-Qur'an, esensi takwa ditekankan melalui berbagai penyandaran (idhafah). Terkadang kata takwa disandingkan langsung pada zat Allah SWT, namun di ayat lain disandarkan pada dahsyatnya siksaan api neraka seperti dalam Surah Ali 'Imran ayat 131, atau dikaitkan dengan kedahsyatan hari kiamat di mana tidak ada lagi proses tolong-menolong antarmanusia, bahkan antara orang tua dan anak, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 48.

"Ragam variasi redaksi ini bertujuan agar manusia senantiasa waspada dan berhati-hati dalam menjalani setiap jengkal kehidupan di dunia," jelasnya.

Lebih mendalam, Ustaz Sofyan menjelaskan bahwa frasa "bertakwalah di mana pun engkau berada" mengandung makna agar setiap muslim konsisten menjaga imannya dalam segala situasi. Ketakwaan tersebut harus tetap terjaga baik secara tersembunyi (fis sirri), seperti saat sendirian atau berada di tempat asing yang tidak ada satu pun orang mengenalnya, maupun saat berada di tengah keramaian (fis syahadah).

"Nilai takwa tidak boleh luntur karena perubahan tempat dan suasana, serta tidak boleh hanya terbatas di dalam ruang masjid atau saat menghadiri majelis pengajian saja," katanya.

Mengingat kondisi keimanan manusia yang bersifat fluktuatif, Rasulullah SAW memberikan pesan apabila seorang hamba tergelincir dalam dosa, yaitu dengan segera mengiringi keburukan tersebut dengan amal kebaikan (hasanah). Berdasarkan penjelasan para ulama pensyarah hadis, makna hasanah yang utama di sini adalah segera melakukan pertobatan (at-taubah).

"Tobat yang disegerakan merupakan penawar bagi perbuatan dosa yang lahir akibat kejahilan atau kebodohan, baik karena faktor ketidaktahuan, lepasnya kontrol emosi, maupun perilaku nekat yang tetap melanggar aturan meskipun telah mengetahui hukumnya," urainya.

Baca juga: Wasiat Imam Syafi’i: Utamakan Hadits Shahih di Atas Pendapat Pribadi

Karakteristik ini sejalan dengan potret orang bertakwa yang digambarkan dalam Surah Ali 'Imran ayat 135 dan Surah Hud ayat 114, di mana ketika mereka melakukan dosa besar (fahsya) yang kerap melibatkan banyak orang, seperti korupsi, suap, ataupun judi, maupun dosa kecil yang menzalimi diri sendiri, mereka akan langsung merasa gelisah, mengingat Allah, dan tidak menikmati maksiat tersebut.

"Berbeda dengan pelaku maksiat tulen, orang bertakwa tidak akan mengulangi kesalahan yang sama secara terus-menerus. Untuk menghapus noda tersebut, mereka menempuh jalur taubatan nasuha dengan memenuhi syarat mutlak: mengakui kesalahan, menyesali perbuatan, bertekad kuat tidak mengulangi, meminta maaf kepada sesama jika melibatkan hak manusia, serta memproduksi amal saleh sebanyak-banyaknya sebagai bukti perbaikan diri," ujar Ustaz Sofyan.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 10 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:55
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan