LANGIT7.ID-Jakarta; Model pemberdayaan Masjid Jogokariyan yang selama ini menjadi rujukan pengelolaan masjid di berbagai daerah Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosok Ustaz Jazir ASP. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus ruang kosong dalam gerakan memakmurkan masjid, bukan hanya bagi warga Mantrijeron, Kota Yogyakarta, tetapi juga bagi banyak komunitas Muslim di berbagai penjuru Tanah Air.
Bernama lengkap Muhammad Jazir, ia mendedikasikan hidupnya untuk satu gagasan utama: mengembalikan masjid sebagai pusat peradaban umat Islam. Bagi Ustaz Jazir, masjid tidak boleh berhenti sebagai tempat ibadah ritual, tetapi harus hadir sebagai pusat pelayanan sosial, pendidikan, dan penguatan ekonomi umat. Gagasan ini ia wujudkan secara konsisten melalui tata kelola Masjid Jogokariyan.
Sejak dipercaya memimpin takmir Masjid Jogokariyan pada 1999, arah pengelolaan masjid berubah signifikan. Seluruh program dirancang agar menyentuh kebutuhan nyata masyarakat sekitar, sekaligus menumbuhkan partisipasi jamaah sebagai subjek, bukan sekadar penerima manfaat.
Ustaz Jazir kerap menegaskan bahwa kekuatan masjid terletak pada manusianya. Dengan penampilan khas bernuansa Jawa, ia menekankan bahwa “jiwa” masjid adalah umat Islam, bukan bangunan fisiknya. Setiap insan, menurutnya, telah dianugerahi akal dan hati oleh Allah Ta’ala untuk berkontribusi dalam memakmurkan masjid.
Baca juga: Ustadz Jazir ASP, Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, WafatKecintaannya pada aktivitas pemakmuran masjid tumbuh sejak muda. Latar belakang pendidikannya di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga serta Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia membentuk pendekatan dakwah yang sistematis dan terukur. Sebelum aktif di ketakmiran Masjid Jogokariyan, ia telah lama berkecimpung di dunia pendidikan.
Pada 1986, Ustaz Jazir merintis Taman Kanak-Kanak Alquran dengan metode pengajaran yang kemudian berkembang luas. Model ini tidak hanya diterapkan di Yogyakarta, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara Asia Tenggara. Atas kontribusi tersebut, Presiden RI saat itu, BJ Habibie, menganugerahkan kepadanya penghargaan Tokoh Perintis Gerakan Alquran Tingkat Nasional.
Dalam memimpin takmir Masjid Jogokariyan, Ustaz Jazir memiliki prinsip kepemimpinan yang tegas. Ia menolak pola kepemimpinan individualistik. “One man show” tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Dua kata kunci selalu ia pegang: kebersamaan dan kepedulian. Program masjid harus dirancang bersama dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Pendekatan tersebut menghasilkan perubahan besar dalam pengelolaan dana umat. Pada periode 2000–2003, infak Masjid Jogokariyan rata-rata hanya Rp43 juta per tahun. Angka ini melonjak drastis hingga mencapai Rp3,6 miliar per tahun pada 2019. Pengelolaan zakat juga meningkat signifikan, dari sekitar Rp4–5 juta menjadi Rp1,7 miliar per tahun.
Dana umat tersebut digerakkan untuk menjawab persoalan konkret warga sekitar masjid. Tercatat ada sekitar 380 keluarga sangat miskin di lingkungan Masjid Jogokariyan yang menjadi prioritas pendampingan. Kebutuhan dasar mereka dipenuhi secara rutin, termasuk pengiriman sembako setiap 15 hari.
Sebanyak 180 kepala keluarga juga menerima Kartu ATM Beras yang dapat diakses selama 24 jam. Selain itu, Masjid Jogokariyan menyediakan layanan kesehatan gratis melalui poliklinik yang melayani lebih dari 1.830 kepala keluarga jamaah.
Program pemberdayaan terus berkembang, mulai dari upaya membebaskan warga dari jeratan rentenir hingga renovasi hunian melalui program Benah-Benah Rumah Jamaah dan Jogokariyan Lantai Dua. Jumlah rumah yang direnovasi meningkat setiap tahun, dari 18 rumah pada 2017, menjadi 22 rumah pada 2018, dan 30 rumah pada 2019. Masjid juga merencanakan pembangunan perumahan bagi jamaah sebagai kelanjutan dari program tersebut.
Di sektor ekonomi mikro, sebuah angkringan di halaman Masjid Jogokariyan menjadi contoh nyata pemberdayaan umat. Hampir setiap waktu, angkringan itu hidup oleh aktivitas jamaah dan menjadi ruang perputaran ekonomi berbasis masjid.
Melalui seluruh kiprah tersebut, Ustaz Jazir meninggalkan warisan penting berupa model pengelolaan masjid yang berpihak pada umat. Ia membuktikan bahwa ketika masjid dikelola dengan kepedulian dan kebersamaan, kepercayaan masyarakat tumbuh, dan masjid benar-benar menjadi pusat kehidupan umat.
(lam)