LANGIT7.ID-, Jakarta - - Fenomena
kesyirikan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia sering kali berakar dari satu masalah mendasar, yaitu keengganan manusia dalam mengoptimalkan akal pikiran yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Hal tersebut ditegaskan oleh Pengurus MUI DKI Jakarta, Ustaz Mohammad Idrus.
Menurutnya, logika yang sehat seharusnya menolak keras penyembahan terhadap objek-objek materi seperti
berhala, yang secara esensi tidak memiliki daya dan bahkan diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Baca juga: Bahaya Laten Syirik Niat Sebagai Faktor Pembatal Hakiki Aktivitas Ibadah"Sebuah patung, baik terbuat dari batu maupun kayu, tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan. Bahkan, ia sendiri adalah hasil ciptaan manusia. Bagaimana mungkin ia dianggap Tuhan dan dijadikan sesembahan?," ujar Ustaz Idrus, dikutip Langit7, Kamis (9/7/2026).
Dalam pemaparannya, alumnus doktoral UIN Jakarta ini mengangkat kisah adu argumen yang legendaris antara
Nabi Ibrahim AS dan penguasa sombong Babilonia,
Raja Namrud. Kisah yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 258 ini memperlihatkan bagaimana argumen rasional mampu mematahkan kesombongan seorang penguasa.
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَٰهِۦمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Artinya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.Nabi Ibrahim AS mengajukan dua hujjah (alasan) utama mengapa berhala atau manusia tidak layak disembah, dan mengapa hanya Allah SWT yang berhak atas status ketuhanan. Pertama, hakikat menghidupkan dan mematikan.
Baca juga: Syirik: Mengungkap Kerusakan Teologis Kaum Yusuf Menurut Al-QuranKetika Nabi Ibrahim menyatakan bahwa Tuhannya adalah Yang Menghidupkan dan Mematikan, Raja Namrud menjawab dengan logika yang dangkal. Ia memanggil dua tahanan, mengeksekusi yang satu dan membebaskan yang lain, lalu mengklaim, "Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan."
Ustaz Idrus menjelaskan bahwa logika Namrud sangat keliru. Konsep menghidupkan dan mematikan bagi Allah SWT bersifat mutlak tanpa proses lahiriah manusia. Ia mengaitkannya dengan dua fenomena besar dalam Al-Qur'an. Pertama, kisah pria dan keledainya (QS Al-Baqarah: 259). Allah mematikan seseorang selama 100 tahun hingga menjadi tulang belulang, lalu menyusunnya kembali menjadi utuh dalam sekejap.
أَوْ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْىِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُۥ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِا۟ئَةَ عَامٍ فَٱنظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَٱنظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَٱنظُرْ إِلَى ٱلْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari". Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Baca juga: Kufur, Syirik, Munafik: Garis Tipis yang Kerap DisalahpahamiKedua, kisah empat burung Nabi Ibrahim (QS Al-Baqarah: 260). Burung yang telah dicincang dan bagian tubuhnya dipisah di atas bukit-bukit yang berbeda, dapat hidup dan terbang kembali seketika saat dipanggil.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ ٱلطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ ٱجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ٱدْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَٱعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Melihat kedangkalan logika Namrud pada argumen pertama, Nabi Ibrahim langsung mengeluarkan argumen kedua yang tidak bisa didebat."Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat." (QS Al-Baqarah: 258).
Mendengar tantangan untuk mengubah sistem rotasi dan hukum alam tersebut, Raja Namrud langsung terdiam seribu bahasa (fabuhitalladzi kafar). Kesombongannya runtuh di hadapan logika sains dan ketuhanan yang nyata.
Baca juga; Syirik di Era Modern: Dari Berhala Batu ke Sistem DuniaDi akhir penjelasannya, Ketua MUI Jakarta Bidang Hubungan Luar Negeri mengajak seluruh umat muslim untuk selalu kritis dan bijak dalam menggunakan akal pikiran. Akal yang sehat, jika dituntun oleh hidayah, akan selalu bermuara pada kesimpulan bahwa alam semesta ini dikendalikan oleh kekuatan tunggal yang Mahakuasa.
"Semoga kita termasuk golongan orang-orang beriman yang senantiasa menggunakan akal pikiran dengan bijak, sehingga kita dapat menemukan kebenaran sejati dan tetap teguh dalam keimanan," pungkasnya.
(est)