LANGIT7.ID-Sejarah Mesir Kuno sering kali digambarkan sebagai puncak peradaban arsitektur dan politik, namun di balik kemegahan piramida dan kuil-kuil Thebes, tersimpan sebuah kegelapan akidah yang sistemik. Di sinilah Yusuf bin Ya’qub hadir, bukan sekadar sebagai penafsir mimpi bagi penguasa, melainkan sebagai seorang ideolog tauhid yang berhadapan langsung dengan kompleksitas paganisme dinasti Mesir.
Dalam naskah bertajuk
Syirik pada Kaum Nabi Yusuf karya Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, dipaparkan bahwa kondisi sosiologis Mesir saat itu berada dalam genggaman politeisme yang akut. Masyarakat tidak hanya menyembah satu entitas, melainkan membagi otoritas ketuhanan kepada berbagai benda mati dan fenomena alam. Puncak dari dakwah Yusuf justru tidak terjadi di istana, melainkan di dalam pengapnya jeruji besi, tempat beliau pertama kali melancarkan serangan intelektual terhadap tuhan-tuhan palsu tersebut.
Kepada dua rekan sepenjaranya, Yusuf melontarkan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah nalar, sebagaimana terekam dalam Surah Yusuf ayat 39:
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُHai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?Pertanyaan ini bukan sekadar diskusi agama, melainkan sebuah kritik tajam terhadap fragmentasi otoritas. Yusuf membagi kerusakan akidah kaumnya ke dalam empat klasifikasi besar. Pertama, kesyirikan dalam peribadatan. Masyarakat Mesir saat itu menyembah nama-nama yang mereka ciptakan sendiri berdasarkan tradisi nenek moyang tanpa landasan wahyu. Mereka terjebak dalam semantika ketuhanan yang kosong, di mana patung sapi dan berhala diberi label kesucian.
Kedua, adalah syirik dalam hukum atau kekuasaan. Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria menekankan bahwa salah satu bentuk penyimpangan terbesar kaum Yusuf adalah berhukum sesuai hawa nafsu. Yusuf menegaskan dalam ayat 40:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُKeputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus.Bagi Yusuf, kedaulatan hukum adalah hak prerogatif Ilahi. Ketika penguasa Mesir menciptakan hukum berdasarkan selera politik dan hawa nafsu, mereka sebenarnya sedang memosisikan diri sebagai tuhan-tuhan kecil. Inilah yang oleh para pemikir kontemporer sering disebut sebagai kedaulatan manusia yang melampaui batas.
Ketiga dan keempat menyangkut pergeseran pemahaman tentang rububiyah. Meski secara fitrah mereka masih mengakui keberadaan Allah sebagai pencipta—seperti ucapan para wanita di rumah al-Aziz yang memuji Allah saat melihat ketampanan Yusuf—praktik keseharian mereka justru menduakan otoritas-Nya. Mereka percaya Allah ada, namun mereka juga percaya bahwa tuhan-tuhan kecil di kuil-kuil memiliki pengaruh terhadap nasib mereka.
Interpretasi atas kisah ini menunjukkan bahwa Yusuf berhasil melakukan infiltrasi dakwah ke jantung birokrasi Mesir. Meskipun penguasa Mesir saat itu akhirnya beriman, masa depan membawa perubahan politik yang kembali menyeret rakyat ke dalam kelaliman paganisme setelah wafatnya raja yang beriman tersebut.
Yusuf mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya urusan sujud di mihrab, melainkan juga tentang integritas hukum dan pembebasan nalar dari mitologi palsu. Beliau menyingkap bahwa tuhan-tuhan yang banyak itu hanyalah konstruksi sosial yang rapuh, yang akan runtuh ketika berhadapan dengan kebenaran absolut Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
(mif)