10 Karakteristik Kepemimpinan Nabi Ibrahim AS
Tim langit 7
Selasa, 30 Januari 2024 - 13:29 WIB
Kepemimpinan Ibrahim itu terbangun di atas prinsip dan idealisme yang kokoh.
Shamsi Ali Al-Kajangi
Sambil menunggu boarding dari bandara kampung halaman, saya terbetik untuk menulis ulang 10 kriteria kepemimpinan Ibrahim AS. Tulisan ini pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu. Kali ini saya sampaikan dengan sedikit modifikasi dan lebih sederhana.
Kesepuluh karakteristik Kepemimpinan Ibrahim itu adalah sebagai berikut:
Satu, kepemimpinan Ibrahim itu terbangun di atas prinsip dan idealisme yang kokoh. Kepemimpinan yang tidak mudah goyah dan terwarnai oleh rongrongan, godaan dan tantangan apapun. Kepemimpinan yang terbangun di atas prinsip-prinsip dasar (principles) dan nilai (value). Bukan sekedar kepentingan pragmatis, apalagi melalui kolaborasi yang penuh dengan manipulasi.
Hal ini tersimpulkan dari sikap Ibrahim AS terhadap kesyirikan pada masanya. Beliau terlahir di tengah masyarakat musyrik, bahkan ayahnya adalah pembuat patung, tapi beliau kokoh memegang prinsip. Tidak terpengaruh dan hanyut dalam kesyirikan masa itu.
Dua, kepemimpinan Ibrahim itu berbasis kepintaran. Terminologi yang sering kita dengarkan adalah fathonah. Ketajaman akal atau kepintaran menjadi karakter dasar kepemimpinan Ibrahim AS. Bukan kepemimpinan yang penuh gimik yang cenderung membodohi rakyat.
Baca juga:Sepuluh Karakteristik Kepemimpinan Ibrahim AS
Sambil menunggu boarding dari bandara kampung halaman, saya terbetik untuk menulis ulang 10 kriteria kepemimpinan Ibrahim AS. Tulisan ini pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu. Kali ini saya sampaikan dengan sedikit modifikasi dan lebih sederhana.
Kesepuluh karakteristik Kepemimpinan Ibrahim itu adalah sebagai berikut:
Satu, kepemimpinan Ibrahim itu terbangun di atas prinsip dan idealisme yang kokoh. Kepemimpinan yang tidak mudah goyah dan terwarnai oleh rongrongan, godaan dan tantangan apapun. Kepemimpinan yang terbangun di atas prinsip-prinsip dasar (principles) dan nilai (value). Bukan sekedar kepentingan pragmatis, apalagi melalui kolaborasi yang penuh dengan manipulasi.
Hal ini tersimpulkan dari sikap Ibrahim AS terhadap kesyirikan pada masanya. Beliau terlahir di tengah masyarakat musyrik, bahkan ayahnya adalah pembuat patung, tapi beliau kokoh memegang prinsip. Tidak terpengaruh dan hanyut dalam kesyirikan masa itu.
Dua, kepemimpinan Ibrahim itu berbasis kepintaran. Terminologi yang sering kita dengarkan adalah fathonah. Ketajaman akal atau kepintaran menjadi karakter dasar kepemimpinan Ibrahim AS. Bukan kepemimpinan yang penuh gimik yang cenderung membodohi rakyat.
Baca juga:Sepuluh Karakteristik Kepemimpinan Ibrahim AS