Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Raih Penghargaan Zayed Award 2024
Tim langit 7
Rabu, 07 Februari 2024 - 09:00 WIB
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menerima penghargaan Zayed Award 2024 di Abu Dhabi, Senin (5/2/2024).
Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) menerima penghargaan Zayed Award 2024 di Abu Dhabi. Penghargaan tersebut diterima langsung dua pimpinan, yaitu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, Senin (5/2/2024).
Zayed Award 2024 yang diberikan kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menjadi berkah bagi gerakan dua Ormas Islam terbesar di Indonesia ini.
“Dengan adanya penghargaan ini kami semakin semangat untuk terus bekerja maksimal dalam menjalankan peran kemanusiaan di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional,” tutur Haedar.
Haedar menyebutkan penghargaan Zayed ini Muhammadiyah persembahkan khusus kepada dunia kemanusiaan universal yang bekerja tanpa kenal lelah untuk menciptakan persaudaraan, perdamaian, kebaikan, toleransi, kebijaksanaan dan kemajuan bagi semua orang tanpa diskriminasi.
Baca juga:Bertemu Grand Syaikh, Wapres Bahas Kesatuan Suara Penyelesaian Palestina
Gus Yahya menyampaikan, Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad al-Thayyeb dan Paus Fransiskus pada 2019 lalu mencerminkan pandangan pendiri Indonesia dan ulama NU.
“Konsep dokumen persaudaraan umat manusia memang mencerminkan aspirasi para pendiri Indonesia dan para pemimpin NU selama satu abad terakhir,” ujar Gus Yahya. Lebih lanjut, Gus Yahya menyampaikan bahwa Dokumen Persaudaraan Manusia itu menyuarakan aspirasi gerakan NU yang diabadikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari 1926 dalam Muqaddimah Qanun Asasi pada 1926.
Zayed Award 2024 yang diberikan kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menjadi berkah bagi gerakan dua Ormas Islam terbesar di Indonesia ini.
“Dengan adanya penghargaan ini kami semakin semangat untuk terus bekerja maksimal dalam menjalankan peran kemanusiaan di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional,” tutur Haedar.
Haedar menyebutkan penghargaan Zayed ini Muhammadiyah persembahkan khusus kepada dunia kemanusiaan universal yang bekerja tanpa kenal lelah untuk menciptakan persaudaraan, perdamaian, kebaikan, toleransi, kebijaksanaan dan kemajuan bagi semua orang tanpa diskriminasi.
Baca juga:Bertemu Grand Syaikh, Wapres Bahas Kesatuan Suara Penyelesaian Palestina
Gus Yahya menyampaikan, Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad al-Thayyeb dan Paus Fransiskus pada 2019 lalu mencerminkan pandangan pendiri Indonesia dan ulama NU.
“Konsep dokumen persaudaraan umat manusia memang mencerminkan aspirasi para pendiri Indonesia dan para pemimpin NU selama satu abad terakhir,” ujar Gus Yahya. Lebih lanjut, Gus Yahya menyampaikan bahwa Dokumen Persaudaraan Manusia itu menyuarakan aspirasi gerakan NU yang diabadikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari 1926 dalam Muqaddimah Qanun Asasi pada 1926.