Ramadhan Sebagai Bulan Transformasi-02
Tim langit 7
Selasa, 12 Maret 2024 - 10:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Shamsi Al-Kajangi*
Transformasi hati dan jiwa atau tepatnya tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa) menjadi fondasi bagi terjadinya transformasi dalam kehidupan manusia, baik pada tataran personal (fardi), keluarga dan Komunitas (umat). Tanpa hati dan jiwa yang bersih kesemua sisi kehidupan menjadi buruk dan amburadul.
Sekali lagi, itulah makna dari titah baginda: “pada tubuh manusia ada segumpal darah yang jika baik akan baik semua anggota tubuhnya. Tapi jika buruk maka akan buruk semua anggota tubuhnya” (hadits).
Tiga: Urgensi menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan transformasi akhlak. Bulan di mana setiap orang yang melakukan puasa, tidak saja untuk tujuan ritual dengan perhitungan pahala. Tapi sekaligus bulan di mana orang yang berupuasa itu melakukan “pelatihan” akhlak yang mulia.
Baca juga:Ramadhan Sebagai Bulan Transformasi- 01
Memang secara legal (hukum fiqh) puasa seolah sekedar menahan makan, minum dan hubungan suami isteri. Tapi hakikatnya puasa adalah latihan terutama menahan diri dari segala prilaku yang tidak sesuai etika. Etika itu esensinya ada pada hakikat. Karenanya fiqh tanpa akhlak adalah hambar. Sebagaimana hukum tanpa etika juga hilang nilai (value).
Dengan menahan diri dari kesenangan dunia di siang hari seseorang harusnya mampu mengingatkan diri bahwa di atas dari eksistensi fisikal (material) ini ada nilai yang lebih tinggi. Hal ini akan mengingatkan pentingnya menjaga nilai itu. Kejujuran, ketawadhuan, dan semua prilaku kebaikan (kindness) itu bagian dari nilai yang terangkum dalam tatanan akhlak manusia. Sebaliknya keculasan, kecurangan, arogansi, ketamakan dan kekikiran semuanya adalah nilai buruk yang melanggar tatanan prilaku mulia (akhlak karimah) itu.
Transformasi hati dan jiwa atau tepatnya tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa) menjadi fondasi bagi terjadinya transformasi dalam kehidupan manusia, baik pada tataran personal (fardi), keluarga dan Komunitas (umat). Tanpa hati dan jiwa yang bersih kesemua sisi kehidupan menjadi buruk dan amburadul.
Sekali lagi, itulah makna dari titah baginda: “pada tubuh manusia ada segumpal darah yang jika baik akan baik semua anggota tubuhnya. Tapi jika buruk maka akan buruk semua anggota tubuhnya” (hadits).
Tiga: Urgensi menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan transformasi akhlak. Bulan di mana setiap orang yang melakukan puasa, tidak saja untuk tujuan ritual dengan perhitungan pahala. Tapi sekaligus bulan di mana orang yang berupuasa itu melakukan “pelatihan” akhlak yang mulia.
Baca juga:Ramadhan Sebagai Bulan Transformasi- 01
Memang secara legal (hukum fiqh) puasa seolah sekedar menahan makan, minum dan hubungan suami isteri. Tapi hakikatnya puasa adalah latihan terutama menahan diri dari segala prilaku yang tidak sesuai etika. Etika itu esensinya ada pada hakikat. Karenanya fiqh tanpa akhlak adalah hambar. Sebagaimana hukum tanpa etika juga hilang nilai (value).
Dengan menahan diri dari kesenangan dunia di siang hari seseorang harusnya mampu mengingatkan diri bahwa di atas dari eksistensi fisikal (material) ini ada nilai yang lebih tinggi. Hal ini akan mengingatkan pentingnya menjaga nilai itu. Kejujuran, ketawadhuan, dan semua prilaku kebaikan (kindness) itu bagian dari nilai yang terangkum dalam tatanan akhlak manusia. Sebaliknya keculasan, kecurangan, arogansi, ketamakan dan kekikiran semuanya adalah nilai buruk yang melanggar tatanan prilaku mulia (akhlak karimah) itu.