home global news

Imbas Perang Gaza, Presiden Kolombia Putus Hubungan Diplomatik dengan Israel Hari Ini

Kamis, 02 Mei 2024 - 15:40 WIB
Presiden Gustavo Petro menegaskan Kolombia memutus hubungan diplomatik dengan Israel karena memiliki pemerintahan dan presiden yang melakukan genosida.

LANGIT7.ID-, Kolombia- - Presiden Kolombia Gustavo Petro telah mengumumkan memutus hubungan diplomatik dengan Israel sehubungan dengan perang yang terjadi di Jalur Gaza, dimana perang ini telah diperingatkan oleh sejumlah pihak dapat menyebabkan genosida.

Keputusan tersebut disampaikan Petro saat dia menghadiri aksi memperingati Hari Buruh Internasional di Bogota pada Rabu (1/5/2024). Dalam aksi ini dia mengumumkan bahwa negara-negara, khususnya Kolombia tidak boleh pasif menghadapi krisi yang terjadi di Gaza.

“Di sini, di hadapan Anda, pemerintahan perubahan, presiden republik, mengumumkan bahwa besok kami akan memutuskan hubungan diplomatik dengan negara Israel… karena negara itu memiliki pemerintahan, memiliki presiden yang melakukan genosida,” kata Petro.

Sebagai pemimpin sayap kiri yang berkuasa pada tahun 2022, Petro dianggap sebagai bagian dari gelombang progresif yang dikenal sebagai “pasangan merah muda” di Amerika Latin. Dia telah menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap Israel sejak dimulainya perang Gaza.

Sebagai pemimpin sayap kiri (left-wing) yang berkuasa pada 2022, Petro dianggap sebagai bagian dari gelombang progresif yang dikenal sebagai “pink tide” di Amerika Latin. Dia telah menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap Israel sejak dimulainya perang Gaza.

Di lain pihak, pada Oktober lalu, hanya beberapa hari setelah konflik dimulai, Israel mengatakan pihaknya “menghentikan ekspor senjata” ke Kolombia setelah Petro menuduh Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menggunakan bahasa yang mirip dengan apa yang “dikatakan Nazi terhadap orang Yahudi”.

Gallant mengatakan negaranya sedang memerangi “manusia hewan (human animals)” di Gaza. Hal ini dikatakan ketika ia memerintahkan pengepungan total wilayah tersebut menyusul serangan mematikan di Israel selatan pada 7 Oktober.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya