Ketua PWNU Jatim: Hadratusyaich KH. Hasyim Asy’ari Ilmuwan dan Ulama Unggul
Tim langit 7
Jum'at, 03 Mei 2024 - 06:00 WIB
Ketua PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Mahfudz menjadi keynote speaker Workshop Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Kampus Universitas Islam Malang , Kamis (2/5/2024).
Ketua PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Mahfudz menjadi keynote speaker Workshop Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Kampus Universitas Islam Malang (Unisma), Kamis (2/5/2024).
Kegiatan yang diinisiasi Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim ini sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional 2024.
Workshop ini menghadirkan 3 narasumber, yaitu Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si; Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof. Jazidie, M.Eng., Ph.D dan Prof. Slamet Wahyu, M.T., guru besar Universitas Brawijaya (Unibraw).
Baca juga:Refleksi Hardiknas 2024, Abdul Mu'ti: Tak Boleh Lepas Dimensi Iman, Takwa dan Akhlak Mulia
KH. Abdul Hakim Mahfudz dalam sambutan pembukaan menegaskan sejak didirikan oleh Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, NU selalu melakukan transformasi dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman.
Menurut Gus Kikin (sapaan KH. Abdul Hakim Mahfudz), meski NU didirikan oleh para ulama dan menjadi tempat beraktifitas para ulama alim, namun tidak pernah berhenti melakukan transformasi.
Hal ini dilakukan dalam rangka menjawab tantangan dan perubahan zaman. Ilmu-ilmu agama ditekuni secara fokus dan bersanad, sedangkan ilmu umum juga dipelajari di pesantren-pesantren agar NU selalu mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan prinsip “almuhafadzatu ‘alal qadimis sholih wal ahdu biijadidil ashlah” yang artinya, segala sesuatu yang baik akan tetap dipertahankan dengan mengadaptasi hal-hal baru yang lebih baik.
Kegiatan yang diinisiasi Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim ini sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional 2024.
Workshop ini menghadirkan 3 narasumber, yaitu Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si; Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof. Jazidie, M.Eng., Ph.D dan Prof. Slamet Wahyu, M.T., guru besar Universitas Brawijaya (Unibraw).
Baca juga:Refleksi Hardiknas 2024, Abdul Mu'ti: Tak Boleh Lepas Dimensi Iman, Takwa dan Akhlak Mulia
KH. Abdul Hakim Mahfudz dalam sambutan pembukaan menegaskan sejak didirikan oleh Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, NU selalu melakukan transformasi dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman.
Menurut Gus Kikin (sapaan KH. Abdul Hakim Mahfudz), meski NU didirikan oleh para ulama dan menjadi tempat beraktifitas para ulama alim, namun tidak pernah berhenti melakukan transformasi.
Hal ini dilakukan dalam rangka menjawab tantangan dan perubahan zaman. Ilmu-ilmu agama ditekuni secara fokus dan bersanad, sedangkan ilmu umum juga dipelajari di pesantren-pesantren agar NU selalu mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan prinsip “almuhafadzatu ‘alal qadimis sholih wal ahdu biijadidil ashlah” yang artinya, segala sesuatu yang baik akan tetap dipertahankan dengan mengadaptasi hal-hal baru yang lebih baik.