Faedah Makanan Halal, Mulai dari Doa Mustajab hingga Obat Segala Penyakit
Lusi mahgriefie
Selasa, 16 Juli 2024 - 14:29 WIB
Ustadz Ilham Wahyudi: Sangat penting untuk mengonsumsi makanan halal dan thayyib bagi umat Islam. Foto: Lusi
Sangat penting untuk umat Islam mengonsumsi makanan halal dan thayyib. Sebab di balik makanan halal ada keutamaan, di antaranya doa yang mustajab dan obat dari segala macam penyakit.
Mengonsumsi makanan yang terjamin halal adalah perintah Syariat Islam. Dalam Islam setidaknya terdapat 5 faedah mengonsumsi makanan halal. Secara tegas perintah mengonsumsi makanan halal tertuang dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS Al-Baqarah: 168)
Ada dua kategori dalam makanan yang disebut halal yaitu pertama, halal secara dzatiyah atau dari aspek wujud fisiknya. Kedua, halal dari aspek asal muasalnya. Makanan yang secara dzatiyah halal, namun didapatkan dengan cara yang haram, seperti dengan cara mencuri maka tidak faedah dari kehalalannya.
Baca juga:Dua Brand Modest Fashion Lokal Rilis Koleksi Chara, Padukan Motif Abstrak dan Desain Timeless
Selain halal, makanan yang dikonsumsi juga harus thayyib atau baik. “Halal dan thayyib harus berdampingan. Antara halal dan baik harus sejalan,” ujar Ustadz Ilham Wahyudi dalam kajiannya di Majelis Taklim Khoirotunnisa.
Mengonsumsi makanan yang terjamin halal adalah perintah Syariat Islam. Dalam Islam setidaknya terdapat 5 faedah mengonsumsi makanan halal. Secara tegas perintah mengonsumsi makanan halal tertuang dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS Al-Baqarah: 168)
Ada dua kategori dalam makanan yang disebut halal yaitu pertama, halal secara dzatiyah atau dari aspek wujud fisiknya. Kedua, halal dari aspek asal muasalnya. Makanan yang secara dzatiyah halal, namun didapatkan dengan cara yang haram, seperti dengan cara mencuri maka tidak faedah dari kehalalannya.
Baca juga:Dua Brand Modest Fashion Lokal Rilis Koleksi Chara, Padukan Motif Abstrak dan Desain Timeless
Selain halal, makanan yang dikonsumsi juga harus thayyib atau baik. “Halal dan thayyib harus berdampingan. Antara halal dan baik harus sejalan,” ujar Ustadz Ilham Wahyudi dalam kajiannya di Majelis Taklim Khoirotunnisa.