Dari Sekolah Parlemen di Mesir: Agama dan Negara Apakah Bisa Bersatu?
Tim langit 7
Jum'at, 19 Juli 2024 - 06:12 WIB
Dari Sekolah Parlemen di Mesir: Agama dan Negara Apakah Bisa Bersatu?
LANGIT7MID-Kairo; Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir menggelar sekolah parlemen 2024. Kegiatan perdana dan sangat bersejarah ini, membahas topik tentang " konsep agama dan negara bisa bersatu di bawah satu atap atau tidak."
Professor Dr. Sunny Ummul Firdaus guru besar di bidang tata hukum negara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) yang hadir sebagai pembicara dalam acara ini mengatakan, dirinya sangat kagum pada antusiasme mahasiswa Timur Tengah terhadap keparlemenan.
Menurutnya, stereotip bahwa mahasiswa di Timur Tengah hanya tertarik pada studi agama ternyata terbantahkan dengan partisipasi mereka dalam acara Sekolah Parlemen ini.
“Peristiwa ini mencerminkan dinamika kompleks antara agama dan negara. Di banyak negara, agama sering kali menjadi faktor penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Namun, tantangan muncul ketika agama digunakan sebagai landasan untuk kebijakan publik dan hukum negara. Hal ini dapat memicu ketegangan antar-kelompok atau bahkan konflik di masyarakat,” ungkap Professor Sunny.
Perlu diketahui, Sekolah Parlemen 2024 di Mesir yang digagas pelajar Indonesia di Mesir, dapat memberikan contoh bagaimana pendekatan inklusif dapat memperkuat integrasi sosial di antara warga negara yang memiliki latar belakang agama yang beragam. Sebelumnya PPMI juga sukses menggelar sekolah diplomasi di KBRI Kairo.
Menurut Professor Sunny, acara ini menjadi sebuah gebrakan baru yang diadakan dalam sejarah mahasiswa Indonesia di Mesir.
“Sekolah Parlemen 2024 ini memang bukan program unggulan dari kabinet PPMI, namun memang Sekolah Parlemen 2024 ini merupakan program terbaru yang sangat bagus dari PPMI,” ungkapnya.
Professor Dr. Sunny Ummul Firdaus guru besar di bidang tata hukum negara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) yang hadir sebagai pembicara dalam acara ini mengatakan, dirinya sangat kagum pada antusiasme mahasiswa Timur Tengah terhadap keparlemenan.
Menurutnya, stereotip bahwa mahasiswa di Timur Tengah hanya tertarik pada studi agama ternyata terbantahkan dengan partisipasi mereka dalam acara Sekolah Parlemen ini.
“Peristiwa ini mencerminkan dinamika kompleks antara agama dan negara. Di banyak negara, agama sering kali menjadi faktor penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Namun, tantangan muncul ketika agama digunakan sebagai landasan untuk kebijakan publik dan hukum negara. Hal ini dapat memicu ketegangan antar-kelompok atau bahkan konflik di masyarakat,” ungkap Professor Sunny.
Perlu diketahui, Sekolah Parlemen 2024 di Mesir yang digagas pelajar Indonesia di Mesir, dapat memberikan contoh bagaimana pendekatan inklusif dapat memperkuat integrasi sosial di antara warga negara yang memiliki latar belakang agama yang beragam. Sebelumnya PPMI juga sukses menggelar sekolah diplomasi di KBRI Kairo.
Menurut Professor Sunny, acara ini menjadi sebuah gebrakan baru yang diadakan dalam sejarah mahasiswa Indonesia di Mesir.
“Sekolah Parlemen 2024 ini memang bukan program unggulan dari kabinet PPMI, namun memang Sekolah Parlemen 2024 ini merupakan program terbaru yang sangat bagus dari PPMI,” ungkapnya.