Gencatan Senjata Gaza di Ujung Tanduk: Ancaman Perang Regional Membayang
Nabil
Senin, 05 Agustus 2024 - 05:49 WIB
Gencatan Senjata Gaza di Ujung Tanduk: Ancaman Perang Regional Membayang
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Tewasnya pemimpin politik Hamas dalam serangan yang dituduhkan kepada Israel telah memicu kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan mengesampingkan pembicaraan yang bertujuan mengakhiri perang di Gaza yang telah berlangsung hampir 10 bulan.
Sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober terhadap Israel memicu pembalasan dahsyat di Gaza, Qatar telah bertindak sebagai penghubung penting dengan kelompok militan Palestina tersebut.
Pemimpin politik Hamas yang tewas, Ismail Haniyeh, berbasis di negara Teluk tersebut.
Bersama Amerika Serikat dan Mesir, Qatar telah memimpin pembicaraan di balik layar selama berbulan-bulan yang bertujuan untuk mengamankan gencatan senjata tambahan, melebihi jeda satu minggu pada November lalu ketika puluhan sandera Israel dan asing dibebaskan sebagai ganti tahanan Palestina.
Namun, beberapa jam setelah pembunuhan Haniyeh di Tehran, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani pada hari Rabu mempertanyakan keberhasilan pembicaraan di masa depan.
"Bagaimana mediasi bisa berhasil ketika satu pihak membunuh negosiator di pihak lain?" tanyanya.
Bagaimana Perkembangan Pembicaraan?
Sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober terhadap Israel memicu pembalasan dahsyat di Gaza, Qatar telah bertindak sebagai penghubung penting dengan kelompok militan Palestina tersebut.
Pemimpin politik Hamas yang tewas, Ismail Haniyeh, berbasis di negara Teluk tersebut.
Bersama Amerika Serikat dan Mesir, Qatar telah memimpin pembicaraan di balik layar selama berbulan-bulan yang bertujuan untuk mengamankan gencatan senjata tambahan, melebihi jeda satu minggu pada November lalu ketika puluhan sandera Israel dan asing dibebaskan sebagai ganti tahanan Palestina.
Namun, beberapa jam setelah pembunuhan Haniyeh di Tehran, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani pada hari Rabu mempertanyakan keberhasilan pembicaraan di masa depan.
"Bagaimana mediasi bisa berhasil ketika satu pihak membunuh negosiator di pihak lain?" tanyanya.
Bagaimana Perkembangan Pembicaraan?