Pra Muktamar Jatman, Ketua DPD Paparkan 3 Tantangan dan Modal Menuju Indonesia Kuat
Tim langit 7
Rabu, 07 Agustus 2024 - 10:00 WIB
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti dan Rais Aam JATMAN, Habib Luthfi bin Ali bin Yahya pada Pra Muktamar ke-13 Jamiyyah Ahlith Thoriqoh al-Mutabaroh an-Nahdliyyah
Semua negara termasuk Indonesia menghadapi tiga tantangan berat ke depan di tengah ketidakpastian situasi dunia. Selain ketegangan geopolitik global dan disrupsi teknologi, juga ancaman bencana lingkungan yang dipicu climate change. Namun LaNyalla optimis, karena Indonesia juga punya tiga modal untuk menghadapi.
Hal itu disampaikan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat memberi sambutan pada Pra Muktamar ke-13 Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) di Subang, Jawa Barat, Selasa malam (6/8/2024), yang dibuka langsung oleh Rois ‘Aam JATMAN, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.
“Modal yang pertama adalah nilai-nilai luhur Thoriqoh JATMAN di bawah kepemimpinan Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, yang dikenal sebagai tokoh yang memiliki spirit patriotisme dan jiwa nasionalisme yang kuat. Ini seirama dengan modal kedua, yaitu semangat patriotisme dan jiwa nasionalisme dari Presiden terpilih Prabowo Subianto,” urainya.
Ditambah modal ketiga, imbuhnya, bahwa kepulauan Nusantara ini dipenuhi oleh Wali Allah SWT yang sejatinya tidak pernah mati. Sehingga menjadi pasak bumi bagi kekuatan bangsa ini. Bahkan makam mereka masih bisa menghidupi orang yang hidup. “Ketiga modal tersebut membuat saya optimis, kita akan mampu menghadapi tantangan global atas tiga disrupsi tersebut,” ungkapnya.
Hanya saja, untuk mewujudkan kekuatan Indonesia, dibutuhkan tekad bersama seluruh elemen bangsa untuk bersatu. Sehingga Indonesia bisa lepas landas dengan modal semua yang sudah dibangun oleh pemerintahan hari ini dan pemerintahan sebelumnya. “Tekad bersama hanya bisa diwujudkan bila rakyat punya saluran untuk ikut menentukan arah perjalanan bangsa dan ketidakadilan bisa dikikis,” pungkasnya.
Baca juga:Pernyataan Wakil Dubes Matthew Downing tentang Kekerasan dan Kekacauan di Inggris
"Untuk itu kita harus berani melakukan telaah dan pengkajian ulang atas apa yang telah terjadi sejak Era Reformasi hingga hari ini, dimana beberapa indikator kesenjangan dan karakter jati diri bangsa Pancasila yang faktanya semakin memudar, menjadi invidualistis, materialis dan pragmatis. Kita harus koreksi, untuk kembali ke Pancasila," tuturnya.
Hal itu disampaikan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat memberi sambutan pada Pra Muktamar ke-13 Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) di Subang, Jawa Barat, Selasa malam (6/8/2024), yang dibuka langsung oleh Rois ‘Aam JATMAN, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.
“Modal yang pertama adalah nilai-nilai luhur Thoriqoh JATMAN di bawah kepemimpinan Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, yang dikenal sebagai tokoh yang memiliki spirit patriotisme dan jiwa nasionalisme yang kuat. Ini seirama dengan modal kedua, yaitu semangat patriotisme dan jiwa nasionalisme dari Presiden terpilih Prabowo Subianto,” urainya.
Ditambah modal ketiga, imbuhnya, bahwa kepulauan Nusantara ini dipenuhi oleh Wali Allah SWT yang sejatinya tidak pernah mati. Sehingga menjadi pasak bumi bagi kekuatan bangsa ini. Bahkan makam mereka masih bisa menghidupi orang yang hidup. “Ketiga modal tersebut membuat saya optimis, kita akan mampu menghadapi tantangan global atas tiga disrupsi tersebut,” ungkapnya.
Hanya saja, untuk mewujudkan kekuatan Indonesia, dibutuhkan tekad bersama seluruh elemen bangsa untuk bersatu. Sehingga Indonesia bisa lepas landas dengan modal semua yang sudah dibangun oleh pemerintahan hari ini dan pemerintahan sebelumnya. “Tekad bersama hanya bisa diwujudkan bila rakyat punya saluran untuk ikut menentukan arah perjalanan bangsa dan ketidakadilan bisa dikikis,” pungkasnya.
Baca juga:Pernyataan Wakil Dubes Matthew Downing tentang Kekerasan dan Kekacauan di Inggris
"Untuk itu kita harus berani melakukan telaah dan pengkajian ulang atas apa yang telah terjadi sejak Era Reformasi hingga hari ini, dimana beberapa indikator kesenjangan dan karakter jati diri bangsa Pancasila yang faktanya semakin memudar, menjadi invidualistis, materialis dan pragmatis. Kita harus koreksi, untuk kembali ke Pancasila," tuturnya.