home global news

Masa Depan Hamas dan Gaza di Bawah Pemimpin Baru Yahya Sinwar

Jum'at, 09 Agustus 2024 - 14:02 WIB
Masa Depan Hamas dan Gaza di Bawah Pemimpin Baru Yahya Sinwar
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Keputusan Hamas menunjuk Yahya Sinwar, seorang tokoh militer garis keras, sebagai pemimpin politik barunya akan mengubah arah pengambilan keputusan kelompok ini di Gaza yang terpuruk. Langkah ini juga akan memperkuat hubungan Hamas dengan pendukung utamanya, Iran, serta membuat prospek gencatan senjata yang sangat dibutuhkan menjadi tidak pasti, menurut para analis politik.

Pengangkatan Sinwar terjadi saat serangan Israel ke Gaza selama 10 bulan terakhir mengancam akan berubah menjadi konflik regional yang lebih berdarah. Situasi memanas setelah pembunuhan pendahulu Sinwar, Ismail Haniyeh, oleh Israel di Teheran pada 31 Juli lalu. Iran mengancam akan "membalas dendam" atas kematian Haniyeh.

Haniyeh selama ini menjadi wajah diplomatik Hamas dan tokoh kunci dalam pembicaraan gencatan senjata yang sedang berlangsung. Pembunuhannya yang tiba-tiba bisa menggagalkan harapan yang sudah tipis untuk menghentikan pertumpahan darah di Gaza. Naiknya Sinwar, sosok penting dalam operasi militer Gaza, dilihat sebagai sinyal perlawanan bahwa kelompok militan ini akan melanjutkan perjuangannya.

Israel menuduh Sinwar sebagai otak di balik serangan 7 Oktober, serangan Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan asing serta menyandera lebih dari 250 orang ke Gaza.

Respons militer Israel sejak saat itu telah menewaskan hampir 40.000 warga Palestina, meratakan wilayah tersebut dengan tanah, dan membuat populasi pengungsinya yang berjumlah sekitar 2,3 juta orang tanpa air bersih, makanan, atau obat-obatan. Israel menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).

Pengangkatan Sinwar menyatukan operasi politik dan militer Hamas, menempatkan pengambilan keputusan kelompok ini sepenuhnya di dalam Jalur Gaza yang porak-poranda akibat perang. Mantan pemimpin politik Haniyeh telah berbasis di Doha sejak 2019. Hamas memindahkan kantor politiknya ke Qatar dari Suriah pada 2012.

Analis politik Ahmed Shadeed mengatakan pengangkatan Sinwar "memiliki bobot moral yang signifikan" karena menyatukan sayap militer dan politik kelompok tersebut. Sinwar dianggap sebagai bagian dari generasi pendiri Hamas, kelompok militan yang didirikan pada 1987 selama Intifada Pertama, atau pemberontakan sipil melawan Israel.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya