home global news

Ketakutan dan Trauma di Lebanon: Konflik dan Bencana yang Tak Berujung

Kamis, 05 September 2024 - 05:25 WIB
Ketakutan dan Trauma di Lebanon: Konflik dan Bencana yang Tak Berujung
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pedagang bernama Alaa Fakih menceritakan dirinya sering terjaga di malam hari karena takut akan datangnya bencana lain di Lebanon.

Seperti banyak orang lainnya, dia trauma dengan masa lalu—dari perang saudara 1975-1990, ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut tahun 2020, hingga krisis ekonomi yang masih berlanjut—dan cemas tentang masa depan.

"Aku seharusnya nggak mikirin semua ini—tapi aku mikirin gimana cara lanjutkan pendidikan anakku dan kalau, misalnya, aku lagi jalan dan Tuhan melarang, terjadi ledakan," kata Fakih, 33 tahun, yang jantungnya sering berdegup kencang di malam hari saat ia menggigil.

"Gimana caranya jalan tanpa ada ledakan. Semua ini bikin kesehatan mentalku terganggu."

Orang-orang sekarang lebih cemas tentang kemungkinan konflik besar antara kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, dan Israel, yang sejak perang Gaza meletus pada bulan Oktober terus terlibat dalam pertempuran di perbatasan.

Lebanon butuh waktu bertahun-tahun untuk bangkit dari perang tahun 2006 antara kedua musuh bebuyutan yang menewaskan 1.200 orang di Lebanon, kebanyakan warga sipil, dan 158 orang Israel, sebagian besar tentara.

Puluhan tahun korupsi dan salah urus oleh para politisi berkuasa menyebabkan runtuhnya sistem keuangan pada 2019, menguras tabungan, menghancurkan mata uang, dan memperparah kemiskinan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya