Komunitas Perempuan Milenial Beri Penyuluhan Anak-Anak Jalanan
Fajar adhitya
Sabtu, 11 September 2021 - 15:15 WIB
Komunitas perempuan milenial beri penyuluhan kepada anak-anak jalanan. (Foto: Antara).
Komunitas perempuan milenial beri penyuluhan anak-anak jalanan di Ambon, Maluku. Tujuan mereka untuk menghindarkan mereka dari kejahatan dan kekerasa seksual.
Mereka yang tergabung dalam Gerakan Pejuang Perempuan Milenial disingkat GPPERMI memberikan penyuluhan kepada anak-anak di Rumah Singgah Sahabat Melindungi di Aypatti.
"Konsepnya bagaimana kita bisa penyuluhan hukum di jalan, khususnya untuk anak-anak di jalanan karena kita pikir kekerasan seksual ini bisa terjadi di mana saja. Apalagi anak-anak yang rentan di jalan," kata Koordinator GPPERMI, Iftyn Yuninda Hart.
Dia menjelaskan, penyuluhan mencakup pemberian pemahaman kepada anak-anak jalanan mengenai bagian tubuh yang dapat dilihat dan disentuh serta yang dilarang dilihat dan disentuh oleh orang lain.
"Yang kita sampaikan tidak sebatas pengetahuan tentang bagian tubuh mana yang boleh dipegang dan tidak, tetapi juga memberi kesadaran terhadap dampak yang akan mereka dapat jika melakukan hal-hal yang di luar batas," katanya.
Menurut dia, pemahaman mengenai batasan itu penting mengingat selama ini banyak anak yang mengalami bentuk-bentuk pelecehan seksual namun tidak menyadarinya.
"Jadi yang mereka cuma tahu, saya diperlakukan seperti ini, dipegang ini, tapi tidak tahu itu namanya apa. Nah, jadi kita hadir untuk memberi pengetahuan soal itu," katanya.
Mereka yang tergabung dalam Gerakan Pejuang Perempuan Milenial disingkat GPPERMI memberikan penyuluhan kepada anak-anak di Rumah Singgah Sahabat Melindungi di Aypatti.
"Konsepnya bagaimana kita bisa penyuluhan hukum di jalan, khususnya untuk anak-anak di jalanan karena kita pikir kekerasan seksual ini bisa terjadi di mana saja. Apalagi anak-anak yang rentan di jalan," kata Koordinator GPPERMI, Iftyn Yuninda Hart.
Dia menjelaskan, penyuluhan mencakup pemberian pemahaman kepada anak-anak jalanan mengenai bagian tubuh yang dapat dilihat dan disentuh serta yang dilarang dilihat dan disentuh oleh orang lain.
"Yang kita sampaikan tidak sebatas pengetahuan tentang bagian tubuh mana yang boleh dipegang dan tidak, tetapi juga memberi kesadaran terhadap dampak yang akan mereka dapat jika melakukan hal-hal yang di luar batas," katanya.
Menurut dia, pemahaman mengenai batasan itu penting mengingat selama ini banyak anak yang mengalami bentuk-bentuk pelecehan seksual namun tidak menyadarinya.
"Jadi yang mereka cuma tahu, saya diperlakukan seperti ini, dipegang ini, tapi tidak tahu itu namanya apa. Nah, jadi kita hadir untuk memberi pengetahuan soal itu," katanya.