home global news

Konflik Gaza-Lebanon Memicu Kedekatan Mesir dan Iran?

Sabtu, 19 Oktober 2024 - 12:22 WIB
Konflik Gaza-Lebanon Memicu Kedekatan Mesir dan Iran?
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Hubungan Mesir-Iran selalu rumit. Tapi konflik terbaru di Gaza dan Lebanon bisa jadi mengubah dinamika kawasan. Kedua negara yang dulu berseteru kini mulai menjalin komunikasi intensif. Mungkinkah ini awal dari normalisasi hubungan Cairo-Tehran?

Perang Israel di Gaza dan Lebanon membuka peluang bagi Mesir dan Iran untuk semakin dekat. Kedua negara tengah melakukan komunikasi terbuka maupun tertutup. Puncaknya, Menlu Iran Abbas Araghchi berkunjung ke Mesir pada Kamis lalu. Kunjungan ini bagian dari tur kawasan Timur Tengah. Fokus pembicaraan adalah meredakan ketegangan di Gaza dan Lebanon, serta konflik Iran-Israel.

Kunjungan ini menandai upaya Iran memulihkan hubungan dengan Mesir setelah bertahun-tahun membeku. Sejak kesepakatan Saudi-Iran Maret 2023, komunikasi Teheran-Kairo meningkat. Oman berperan sebagai mediator, menyampaikan pesan antar kedua negara. Meski masih ada hambatan, tanda-tanda kemajuan diplomasi mulai terlihat. Terutama mengingat tantangan keamanan bersama di kawasan, seperti situasi di Yaman dan Gaza.

Baca juga: Masa Depan Gaza Setelah Kematian Pemimpin Hamas: Antara Harapan AS dan Realita Israel

Untuk memahami prospek normalisasi Cairo-Tehran, penting melihat konteks historis krisis ini. Sebelum Revolusi Iran 1979 yang dipimpin Ayatollah Khomeini, Mesir dan Iran memiliki hubungan strategis yang kuat. Ada kerja sama politik dan militer erat, dengan Iran mendukung Mesir menghadapi tantangan regional di era Presiden Gamal Abdel Nasser.

Namun, hubungan berubah drastis setelah penggulingan Shah. Hubungan memasuki fase ketegangan berkelanjutan, terutama karena rezim Iran baru menentang Perjanjian Camp David 1978. Mesir juga memandang Iran sebagai pendukung kelompok Islamis ekstremis yang mengancam keamanan nasionalnya. Keyakinan ini diperkuat dengan pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 1981. Iran semakin memperburuk hubungan dengan menamakan sebuah jalan di Tehran dengan nama pembunuh Sadat, Khalid Islambouli.

Sepanjang 1980-an dan 1990-an, hubungan tetap dingin. Kedua negara mendukung pihak-pihak yang berseberangan dalam berbagai konflik regional. Iran menjadi pendukung utama Hizbullah di Lebanon dan faksi-faksi Palestina. Sementara Mesir, di bawah Presiden Hosni Mubarak, tetap menjadi pilar tatanan Arab Sunni dan mempertahankan hubungan dekat dengan AS.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya