Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home global news detail berita

Konflik Gaza-Lebanon Memicu Kedekatan Mesir dan Iran?

nabil Sabtu, 19 Oktober 2024 - 12:22 WIB
Konflik Gaza-Lebanon Memicu Kedekatan Mesir dan Iran?
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Hubungan Mesir-Iran selalu rumit. Tapi konflik terbaru di Gaza dan Lebanon bisa jadi mengubah dinamika kawasan. Kedua negara yang dulu berseteru kini mulai menjalin komunikasi intensif. Mungkinkah ini awal dari normalisasi hubungan Cairo-Tehran?

Perang Israel di Gaza dan Lebanon membuka peluang bagi Mesir dan Iran untuk semakin dekat. Kedua negara tengah melakukan komunikasi terbuka maupun tertutup. Puncaknya, Menlu Iran Abbas Araghchi berkunjung ke Mesir pada Kamis lalu. Kunjungan ini bagian dari tur kawasan Timur Tengah. Fokus pembicaraan adalah meredakan ketegangan di Gaza dan Lebanon, serta konflik Iran-Israel.

Kunjungan ini menandai upaya Iran memulihkan hubungan dengan Mesir setelah bertahun-tahun membeku. Sejak kesepakatan Saudi-Iran Maret 2023, komunikasi Teheran-Kairo meningkat. Oman berperan sebagai mediator, menyampaikan pesan antar kedua negara. Meski masih ada hambatan, tanda-tanda kemajuan diplomasi mulai terlihat. Terutama mengingat tantangan keamanan bersama di kawasan, seperti situasi di Yaman dan Gaza.

Baca juga: Masa Depan Gaza Setelah Kematian Pemimpin Hamas: Antara Harapan AS dan Realita Israel

Untuk memahami prospek normalisasi Cairo-Tehran, penting melihat konteks historis krisis ini. Sebelum Revolusi Iran 1979 yang dipimpin Ayatollah Khomeini, Mesir dan Iran memiliki hubungan strategis yang kuat. Ada kerja sama politik dan militer erat, dengan Iran mendukung Mesir menghadapi tantangan regional di era Presiden Gamal Abdel Nasser.

Namun, hubungan berubah drastis setelah penggulingan Shah. Hubungan memasuki fase ketegangan berkelanjutan, terutama karena rezim Iran baru menentang Perjanjian Camp David 1978. Mesir juga memandang Iran sebagai pendukung kelompok Islamis ekstremis yang mengancam keamanan nasionalnya. Keyakinan ini diperkuat dengan pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 1981. Iran semakin memperburuk hubungan dengan menamakan sebuah jalan di Tehran dengan nama pembunuh Sadat, Khalid Islambouli.

Sepanjang 1980-an dan 1990-an, hubungan tetap dingin. Kedua negara mendukung pihak-pihak yang berseberangan dalam berbagai konflik regional. Iran menjadi pendukung utama Hizbullah di Lebanon dan faksi-faksi Palestina. Sementara Mesir, di bawah Presiden Hosni Mubarak, tetap menjadi pilar tatanan Arab Sunni dan mempertahankan hubungan dekat dengan AS.

Meski tegang, komunikasi terbatas tetap ada. Pertukaran ekonomi dan budaya tetap terbuka sampai batas tertentu. Ini menjadi dasar potensi rekonsiliasi jika lanskap geopolitik berubah.

Mesir dan Iran sering berada di pihak yang berseberangan dalam banyak isu. Misalnya, selama Perang Iran-Irak, Mesir sepenuhnya mendukung Irak dan menentang ambisi ekspansi regional Iran. Mesir juga mendukung negara-negara Teluk yang terancam oleh proksi Iran, terutama Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.

Ketika konflik pecah di kawasan pada 7 Oktober 2023, semua kemungkinan terbuka. Iran berperan penting mendukung Hizbullah baik di bidang militer maupun politik. Sementara Mesir memandang situasi di Lebanon dengan keprihatinan mendalam, terutama karena eskalasi lebih lanjut bisa mempengaruhi stabilitas seluruh kawasan. Meski ada perbedaan pendapat antara Kairo dan Tehran mengenai peran Iran di Lebanon, krisis ini bisa membuka pintu dialog baru tentang cara mengendalikan situasi.

Di Gaza, Iran adalah pendukung utama Hamas secara militer dan finansial. Sementara Mesir secara konsisten bertindak sebagai mediator antara Israel dan Hamas. Kairo ingin menghindari perang skala penuh yang akan berdampak negatif pada keamanan regional. Situasi ini membuka peluang kesepahaman langsung antara kedua negara.

Kunjungan Araghchi ke Mesir, setelah komunikasi intensif, terjadi pada momen yang sangat sensitif. Ketegangan di kawasan mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa Iran berupaya memperbaiki hubungannya dengan negara-negara kawasan, termasuk Mesir, untuk mengurangi tekanan internasional dan regional. Memperkuat hubungan dengan Kairo akan memperkuat posisi regional Iran, terutama dalam isu-isu seperti Lebanon dan Gaza.

Bagi Mesir, menjaga stabilitas di Gaza sangat penting bagi keamanan nasionalnya. Sementara itu, dukungan Iran terhadap faksi-faksi perlawanan Palestina, termasuk Hamas dan Jihad Islam, melalui bantuan finansial dan militer, sejalan dengan narasi anti-Israel yang lebih luas. Koordinasi taktis bisa melayani kepentingan kedua negara.

Krisis politik dan ekonomi Lebanon juga membayangi kawasan. Hizbullah, proksi Iran, memiliki pengaruh signifikan dalam politik Lebanon. Meski Mesir secara tradisional menghindari keterlibatan dengan Hizbullah, situasi yang memburuk di Lebanon telah menimbulkan kekhawatiran di Kairo tentang potensi ketidakstabilan yang menyebar ke seluruh dunia Arab. Ada pengakuan yang berkembang dalam lingkaran kebijakan luar negeri Mesir bahwa beberapa bentuk kerja sama dengan Iran mungkin diperlukan untuk mencegah keruntuhan Lebanon, yang bisa memiliki konsekuensi regional yang luas.

Faktor lain yang mendorong Mesir dan Iran menuju kemungkinan normalisasi adalah perubahan dinamika di Teluk. Arab Saudi, sekutu Teluk terdekat Mesir, telah memulai dialognya sendiri dengan Iran. Meski hubungan antara Riyadh dan Tehran tetap tegang, pembicaraan ini menunjukkan tren yang lebih luas menuju de-eskalasi regional. Mesir mungkin melihat ini sebagai peluang untuk mengeksplorasi jalur normalisasinya sendiri tanpa membahayakan hubungannya dengan negara-negara Teluk. Jika Arab Saudi dan Iran bisa terlibat secara diplomatik, ada ruang bagi Mesir untuk mengeksplorasi normalisasi juga.

Namun, meski peluang normalisasi realistis, hambatan besar tetap ada. Salah satunya adalah perbedaan ideologi. Mesir tetap skeptis terhadap Islam politik yang dianut Iran, serta narasi revolusionernya. Selain itu, kedua negara memiliki aliansi yang bertentangan, dengan Mesir terikat erat dengan Barat sementara Iran tetap dikenai sanksi berat. Dukungan Iran untuk kelompok seperti Hizbullah dan Hamas terus menjadi poin perselisihan, karena Mesir memandang kelompok-kelompok ini sebagai kekuatan yang destabilisasi di kawasan.

Dukungan berkelanjutan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di seluruh kawasan, yang dilihat Mesir sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Arab, menjadi penghalang utama. Lebih jauh lagi, kebijakan ekspansionis Iran di Yaman dan Suriah masih menjadi poin ketidaksepakatan utama antara kedua negara.

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, hubungan mungkin akan melihat setidaknya normalisasi sementara, karena kedua negara bekerja sama dalam isu-isu regional bersama seperti krisis di Lebanon dan Gaza. Skenario ini mengasumsikan bahwa kedua negara akan bekerja untuk membangun kepercayaan melalui dialog politik dan diplomatik.

Apakah normalisasi ini bisa membantu menyelesaikan situasi di Gaza dan Lebanon masih belum pasti. Kemajuan akan bergantung pada kemampuan kedua pihak untuk mengatasi hambatan-hambatan ini dan terlibat dalam dialog politik yang efektif untuk mengatasi tantangan regional. (arabnews)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)