Piano Ini Jadi Simbol Semangat Gaza, Satu-satunya Instrument yang Selamat dari Serangan Israel
Lusi mahgriefie
Ahad, 27 Oktober 2024 - 10:37 WIB
Piano Ini Jadi Simbol Semangat Gaza, Satu-satunya Instrument yang Selamat dari Serangan Israel
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Seorang guru musik di Gaza, Khamis Abu Shaban berani mengambil risiko untuk kembali ke sekolah musik tempat dia mengajar, meski kondisinya porak-poranda akibat serangan Israel. Apa yang Ia lihat di sekolah musik Palestina cabang Gaza yakni Konservatorium Musik Nasional Edward Said itu, Ia sebut sebagai “bencana”.
“Lebih dari separuh Konservatorium dibakar. Semua instrumen rusak, dibuang ke luar. Anda mulai melihat kotak instrumen segera setelah Anda mendekati Konservatorium di jalanan. Biola, kami punya lebih dari 50, hancur total. Cellos, lebih dari 40, hancur total,” ujar Khamis dilansir bbc.com, Sabtu (26/10/2024).
Secara keseluruhan, Konservatorium cabang Gaza dulunya memiliki lebih dari 400 instrumen, baik instrumen klasik Barat maupun instrumen tradisional Arab seperti oud, qanun, dan nay, sejenis seruling. Khamis mengatakan dia merasa “hancur total”.
Tapi kemudian dia melihat sesuatu yang membangkitkan semangatnya.
“Satu-satunya instrumen yang saya lihat berdiri adalah grand piano. Sejujurnya aku tersenyum melihatnya. Saya tersenyum dan saya tertawa,” ungkapnya.
Konser megah Yamaha juga mampu bertahan terhadap pemboman dalam perang sebelumnya antara Israel dan penguasa Gaza, Hamas, pada tahun 2014, dan direstorasi secara hati-hati pada tahun berikutnya oleh teknisi musik Perancis.
Hal ini menjadi simbol bagi banyak aspirasi agar wilayah tersebut dapat mengembangkan budaya musik yang berkembang.
“Lebih dari separuh Konservatorium dibakar. Semua instrumen rusak, dibuang ke luar. Anda mulai melihat kotak instrumen segera setelah Anda mendekati Konservatorium di jalanan. Biola, kami punya lebih dari 50, hancur total. Cellos, lebih dari 40, hancur total,” ujar Khamis dilansir bbc.com, Sabtu (26/10/2024).
Secara keseluruhan, Konservatorium cabang Gaza dulunya memiliki lebih dari 400 instrumen, baik instrumen klasik Barat maupun instrumen tradisional Arab seperti oud, qanun, dan nay, sejenis seruling. Khamis mengatakan dia merasa “hancur total”.
Tapi kemudian dia melihat sesuatu yang membangkitkan semangatnya.
“Satu-satunya instrumen yang saya lihat berdiri adalah grand piano. Sejujurnya aku tersenyum melihatnya. Saya tersenyum dan saya tertawa,” ungkapnya.
Konser megah Yamaha juga mampu bertahan terhadap pemboman dalam perang sebelumnya antara Israel dan penguasa Gaza, Hamas, pada tahun 2014, dan direstorasi secara hati-hati pada tahun berikutnya oleh teknisi musik Perancis.
Hal ini menjadi simbol bagi banyak aspirasi agar wilayah tersebut dapat mengembangkan budaya musik yang berkembang.