Bisma Asif, Catat Sejarah Jadi Anggota Parlemen Muslim Pertama di Queensland
Esti setiyowati
Senin, 04 November 2024 - 15:02 WIB
Bisma Asif mengukir sejarah sebagai anggota parlemen Muslim pertama di Queensland. Foto: Instagram/@sandgatebisma
Bisma Asif, seorang wanita Muslim berusia 28 tahun dari Lahore, mencatat sejarah sebagai anggota parlemen Muslim pertama di Queensland, negara bagianAustralia.
Bisma Asif dikenal fasih berbahasa Hindi, Urdi, dan Inggris, selain bahasa ibunya Punjabi. Kelebihannya menggunakan empat bahasa inilah yang membawa Bisma menjadi Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Parlemen Queensland, Sabtu (2/11/2024) kemarin.
“Dapat berbicara kepada beberapa pemilih dalam bahasa mereka sendiri – Saya jelas melihat perubahan dari reaksi mereka,” kata Asif, dikutip The Guardian, Senin (4/11/2024).
Baca juga: Nadia Kahf, Muslimah Berhijab Pertama Jadi Hakim di Amerika
Asif yakin, pencapaiannya sebagai kandidat muda, berkulit coklat dan lahir di luar negeri memberi harapan bagi keluarga-keluarga imigran baru akan masa depan mereka.
“Pada akhirnya, apa pun yang diinginkan setiap orang adalah agar anak-anak mereka mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada mereka,” kata Asif.
“Dan menurut saya itulah yang dilihat banyak orang ketika saya datang ke rumah mereka.”
Bisma Asif dikenal fasih berbahasa Hindi, Urdi, dan Inggris, selain bahasa ibunya Punjabi. Kelebihannya menggunakan empat bahasa inilah yang membawa Bisma menjadi Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Parlemen Queensland, Sabtu (2/11/2024) kemarin.
“Dapat berbicara kepada beberapa pemilih dalam bahasa mereka sendiri – Saya jelas melihat perubahan dari reaksi mereka,” kata Asif, dikutip The Guardian, Senin (4/11/2024).
Baca juga: Nadia Kahf, Muslimah Berhijab Pertama Jadi Hakim di Amerika
Asif yakin, pencapaiannya sebagai kandidat muda, berkulit coklat dan lahir di luar negeri memberi harapan bagi keluarga-keluarga imigran baru akan masa depan mereka.
“Pada akhirnya, apa pun yang diinginkan setiap orang adalah agar anak-anak mereka mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada mereka,” kata Asif.
“Dan menurut saya itulah yang dilihat banyak orang ketika saya datang ke rumah mereka.”