Hasil Penelitian Sebut Mengantuk Berat di Siang Hari Berisiko Demensia
Fajar adhitya
Ahad, 10 November 2024 - 18:50 WIB
Freepik.com
LANGIT7.ID-Jakarta; Menurut hasil studi orang lanjut usia yang merasa mengantuk berat pada siang hari dan kurang bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari berisiko mengalami sindrom risiko kognitif motorik (Motoric CognitiveRisk/MCR), kondisi yang dapatmenyebabkan demensia.
Melansir dari siaran Web MD, orang dengan sindrom MCR sering berjalan lambat dan menyampaikan keluhan kognitif. Namun, dokter belum mendiagnosis mereka mengalami ketidakmampuan berjalan atau demensia.
Hasil analisis para penelitimenunjukkan bahwa 35,5 persen orang yang mengalami kantuk berlebihan pada siang hari dan kurang bersemangat mengalami sindrom MCRdan 6,7 persen tidak memiliki kondisi ini.
Bahkan setelah menyesuaikan faktor risiko seperti usia dan depresi, para peneliti mendapati orang dengan rasa kantuk berlebihan pada siang hari dan secara keseluruhan kurang antusias tiga kali lebih mungkin mengalami sindromMCR dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki masalah tidur tersebut.
"Temuan kami menekankan perlunya skrining untuk masalah-masalah tidur. Ada kemungkinan orang bisa mendapatkan bantuan untuk mengatasi masalah tidur mereka dan mencegah penurunan kognitif di kemudian hari," ujar Victoire Leroy, MD, PhD. dari Albert Einstein College of Medicine di New Yorkselaku penulis hasil studi.
Leroymengatakan,penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menjelaskan mekanisme yang menghubungkan gangguan tidur dengan sindrom risiko kognitif motorik dan penurunan kognitif.(*)
Melansir dari siaran Web MD, orang dengan sindrom MCR sering berjalan lambat dan menyampaikan keluhan kognitif. Namun, dokter belum mendiagnosis mereka mengalami ketidakmampuan berjalan atau demensia.
Hasil analisis para penelitimenunjukkan bahwa 35,5 persen orang yang mengalami kantuk berlebihan pada siang hari dan kurang bersemangat mengalami sindrom MCRdan 6,7 persen tidak memiliki kondisi ini.
Bahkan setelah menyesuaikan faktor risiko seperti usia dan depresi, para peneliti mendapati orang dengan rasa kantuk berlebihan pada siang hari dan secara keseluruhan kurang antusias tiga kali lebih mungkin mengalami sindromMCR dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki masalah tidur tersebut.
"Temuan kami menekankan perlunya skrining untuk masalah-masalah tidur. Ada kemungkinan orang bisa mendapatkan bantuan untuk mengatasi masalah tidur mereka dan mencegah penurunan kognitif di kemudian hari," ujar Victoire Leroy, MD, PhD. dari Albert Einstein College of Medicine di New Yorkselaku penulis hasil studi.
Leroymengatakan,penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menjelaskan mekanisme yang menghubungkan gangguan tidur dengan sindrom risiko kognitif motorik dan penurunan kognitif.(*)
(lam)