Mengenal KH Ahmad Sahal, Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor
Tim langit 7
Selasa, 12 November 2024 - 11:00 WIB
KH Ahmad Sahal, salah satu pendiri Pondok Gontor
KH Ahmad Sahal merupakan salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersama 2 orang lainnya KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.
Ia adalah putera kelima dari Kyai Santoso Anom Besari. Ahmad Sahal lahir di Desa Gontor Ponorogo, Jawa Timur pada 22 mei 1901.
Ahmad Sahal sudah berkelana ke berbagai pondok pesantren sejak usia 17 tahun. Ia banyak mengenyam pendidikan pesantren di Ponorogo dan Pacitan.
Trimurti Pendiri Ponpes Gontor: KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, KH Imam Zarkasyi (ist)
Ahmad Sahal menghabiskan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah (Vervolk School) atau Sekolah Ongko Loro. Setelah tamat, dia melanjutkan ke sejumlah pesantren antara lain pondok pesantren Kauman Ponorogo; pondok Joresan Ponorogo; pondok Josari Ponorogo; Pondok Durisawo Ponorogo; Siwalan Panji Sidoarjo; Pondok Termas Pacitan.
Setelah menjelajah berbagai kitab di berbagai Pondok pesantren, Ahmad Sahal masuk ke sekolah Belanda Algemeene Nederlandsch Verbon (sekolah pegawai di Zaman penjajahan Belanda) pada 1919-1921.
Hidup sebagai orang dengan banyak ilmu agama, Sahal dipercaya untuk menghadiri Kongres Ummat Islam di Surabaya. Ia berangkat sebagai utusan Madiun.
Ia adalah putera kelima dari Kyai Santoso Anom Besari. Ahmad Sahal lahir di Desa Gontor Ponorogo, Jawa Timur pada 22 mei 1901.
Ahmad Sahal sudah berkelana ke berbagai pondok pesantren sejak usia 17 tahun. Ia banyak mengenyam pendidikan pesantren di Ponorogo dan Pacitan.
Trimurti Pendiri Ponpes Gontor: KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, KH Imam Zarkasyi (ist)
Ahmad Sahal menghabiskan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah (Vervolk School) atau Sekolah Ongko Loro. Setelah tamat, dia melanjutkan ke sejumlah pesantren antara lain pondok pesantren Kauman Ponorogo; pondok Joresan Ponorogo; pondok Josari Ponorogo; Pondok Durisawo Ponorogo; Siwalan Panji Sidoarjo; Pondok Termas Pacitan.
Setelah menjelajah berbagai kitab di berbagai Pondok pesantren, Ahmad Sahal masuk ke sekolah Belanda Algemeene Nederlandsch Verbon (sekolah pegawai di Zaman penjajahan Belanda) pada 1919-1921.
Hidup sebagai orang dengan banyak ilmu agama, Sahal dipercaya untuk menghadiri Kongres Ummat Islam di Surabaya. Ia berangkat sebagai utusan Madiun.