home edukasi & pesantren

Kolom Pakar: Filsafat Nietzsche 'KEMATIAN TUHAN'

Sabtu, 23 November 2024 - 09:35 WIB
Kolom Pakar: Filsafat Nietzsche 'KEMATIAN TUHAN'
Dr. Beni Ahmad Saebani,M.Si

Dosen Filsafat Ilmu FSH UIN Sunan Gunung Djati Bandung

LANGIT7.ID-Filsafat Nietzsche adalah filsafat perspektivisme yang dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat pada zamannya dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau (Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi Kristen, filosofi untuk menaklukan nihilisme (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia sempurna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).

Martin Heidegger, filsafat Nietzsche tentang nihilisme semacam ini merupakan "tutup botol" problem metafisis barat. Corak pemikiran ini menunjukan bukan hanya akhir dari filsafat, namun juga akhir dari "wahyu" sebagai kunci pembuka makna atau ketiadaan makna. Konsep subjektivitas dalam metafisik barat yang mencapai klimaksnya dalam will to power, juga menjadi sebuah kegilaan dalam siklus eternal recurrence. Bagi Heidegger, filsafat Nietzsche bukan merupakan penaggulangan atas nihilisme, justru ia merupakan rintangan serius dalam problem nihilisme. Secara konklusif, nihilisme dalam versi Nietzsche berarti ke-nihil-an nilai-nilai, baik kemanusiaan ataupun ketuhanan, sehingga dengan gagasan yang agak provokatif, ia "meletuskan" emosinya ini dengan The Death of God. Selanjutnya, Nietzsche "menciptakan" Übermensch yang akan menyelamatkan dunia yang sedang chaos. Sampai di sini, sisi eksistensialisme yang beranjak dari nihilisme Nietzsche dapat terlihat. (Bernd Magnus and Kathleen M. Higgins, The Cambridge Companions to Nietzsche, (Cambridge University, 2006:312))

Baca juga: Kolom Pakar: Kritik Ideologi Madzhab Frankfrut Jurgen Habermas

EKSISTENSIALISME

Friedrich Wiliam Nietzsche seorang eksistensialis yang pemikirannya memberikan warna tersendiri pada filsafat Barat modern yang mengajak merefleksikan eksistensi manusia. Dalam konsep Übermensech menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah "MANUSIA HARUS EKSIS". Ubermensech mengatasi segala hegemoni dengan kekuatan manusia sendiri. Oleh karena itu, tujuan utama konsep ini adalah membuat manusia yang lebih berani kuat, cerdas, dan hebat sehingga manusia dapat lepas dari kehanyutan hegemoni sehingga manusia mempunyai jati diri yang sesuai dengan dirinya dan ditentukan oleh dirinya tanpa di kukung norma dan nilai yang berlaku. (Listiyono Santoso, Epistemologi Golongan Kiri, (Yogyakarta: Ar-Ruzzmedia, 2007:58))
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya