Boikot Coca-Cola, Pengusaha Palestina Ciptakan Cola Anti-Genosida
Nabil
Senin, 25 November 2024 - 09:12 WIB
Boikot Coca-Cola, Pengusaha Palestina Ciptakan Cola Anti-Genosida
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di tengah hiruk pikuk kawasan Holborn, London, Hiba Express - sebuah restoran cepat saji - selalu dipenuhi pengunjung. Di atasnya berdiri Palestine House, gedung pertemuan bergaya arsitektur Arab tradisional dengan dinding batu dan taman air mancur yang menjadi pusat berkumpulnya warga Palestina dan pendukungnya.
Osama Qashoo, pria karismatik berambut sanggul dengan jenggot tebal dan kumis berujung ikal, mengelola Palestine House di gedung berlantai enam tersebut. Sebelumnya, ia mendirikan Hiba Express pada 2012 dan terlibat dalam manajemen restoran hingga 2020.
Hiba Express menyajikan hidangan khas Palestina dan Lebanon. Interior ruangan dihiasi warna hangat, ranting pohon, dan spanduk bertuliskan "From the river to the sea". Para pengunjung menikmati hidangan keju halloumi, hummus, dan falafel. Di pintu masuk, sebuah boneka mengenakan syal keffiyeh hitam-putih dengan tulisan merah darah di atasnya: "Save the children", mengacu pada ribuan anak Palestina yang tewas akibat serangan Israel di Gaza.
Baca juga: Diplomat Uni Eropa Desak Israel-Hizbullah Setujui Proposal Gencatan Senjata AS, Lebanon di Ambang Kehancuran
Rasa Kebebasan yang Sesungguhnya
Nynke Brett, 53 tahun, warga Hackney, London timur, menemukan Gaza Cola saat menghadiri acara budaya di Palestine House. "Tidak terlalu bersoda seperti Coke. Lebih halus, lebih enak di lidah," ujarnya. "Dan rasanya lebih nikmat karena mendukung Palestina."
Qashoo menciptakan Gaza Cola dengan beberapa alasan, katanya, namun "yang utama adalah memboikot perusahaan yang mendukung dan membiayai tentara Israel serta mendukung genosida" di Gaza. Alasan lainnya: "Untuk menemukan rasa yang bebas rasa bersalah, bebas genosida. Rasa kebebasan yang sesungguhnya."
Osama Qashoo, pria karismatik berambut sanggul dengan jenggot tebal dan kumis berujung ikal, mengelola Palestine House di gedung berlantai enam tersebut. Sebelumnya, ia mendirikan Hiba Express pada 2012 dan terlibat dalam manajemen restoran hingga 2020.
Hiba Express menyajikan hidangan khas Palestina dan Lebanon. Interior ruangan dihiasi warna hangat, ranting pohon, dan spanduk bertuliskan "From the river to the sea". Para pengunjung menikmati hidangan keju halloumi, hummus, dan falafel. Di pintu masuk, sebuah boneka mengenakan syal keffiyeh hitam-putih dengan tulisan merah darah di atasnya: "Save the children", mengacu pada ribuan anak Palestina yang tewas akibat serangan Israel di Gaza.
Baca juga: Diplomat Uni Eropa Desak Israel-Hizbullah Setujui Proposal Gencatan Senjata AS, Lebanon di Ambang Kehancuran
Rasa Kebebasan yang Sesungguhnya
Nynke Brett, 53 tahun, warga Hackney, London timur, menemukan Gaza Cola saat menghadiri acara budaya di Palestine House. "Tidak terlalu bersoda seperti Coke. Lebih halus, lebih enak di lidah," ujarnya. "Dan rasanya lebih nikmat karena mendukung Palestina."
Qashoo menciptakan Gaza Cola dengan beberapa alasan, katanya, namun "yang utama adalah memboikot perusahaan yang mendukung dan membiayai tentara Israel serta mendukung genosida" di Gaza. Alasan lainnya: "Untuk menemukan rasa yang bebas rasa bersalah, bebas genosida. Rasa kebebasan yang sesungguhnya."