Mengkaji Kembali Paham Asyari yang Banyak Dianut Umat Muslim di Indonesia
Tim langit 7
Ahad, 08 Desember 2024 - 19:25 WIB
(Foto: Ilustrasi AI)
LANGIT7.ID-Jakarta;Sebagian besar kaum Muslimin Indonesia, jika tidak seluruhnya, adalah menganut paham Asyari di bidang akidah. Pertama, karena Islam di Indonesia beraliran Sunni, sehingga tidak menganut akidah Syiah atau Muktazilah.
Kedua, karena Islam di Indonesia bermazhab Syafi'i dan seperti di mana-mana, kaum Syafi'i kebanyakan menganut akidah Asyari.
Ini berbeda dengan kaum Sunni bermazhab Hanafi (di Asia Daratan) yang kebanyakan menganut akidah Maturidi, dan dari kaum Sunni bermazhab Hanbali (di Arabia) yang tidak menganut Asy'ari maupun Maturidi, melainkan mempunyai aliran sendiri khas Hanbali.
Baca juga: Sejarah Daulah Fatimiyah: Buah Ketidakpuasan Kaum Syiah terhadap Daulah Abbasiyah
Pembela paling tegas paham Sunnah (lengkapnya, Ahl Sunnah wa al-Jama'ah -- baca: "Ahlusunnah waljama'ah") di negeri kita, yaitu Nahdlatul 'Ulama', dalam muktamarnya di Situbondo akhir 1984 yang lalu merumuskan dan menegaskan bahwa paham Sunnah ialah paham yang dalam 'akidah menganut al-Asy'ari atau al-Maturidi.
Sedangkan kelompok-kelompok lain, seperti Muhammadiyah sebagai yang pertama-tama dan terbesar, yang biasanya oleh Nahdlatul Ulama' dipandang sebagai tidak tegas berpaham Ahl al-Sunnah wa al jama'ah (namun sebenarnya dalam banyak hal malah sangat Sunni), juga masih tetap menganut al-Asy'ari dalam 'akidah, tanpa banyak mengambil alih kritik para pemikir modernis Islam seperti Muhammad Abduh, ataupun pemikir reformis seperti Ibn Taimiyyah dan, apalagi, Muhammad ibn 'Abd-al-Wahhab, terhadap beberapa segi paham Asy'ari itu.
Lalu, siapa sejatinya paham Asy'ari itu?
Kedua, karena Islam di Indonesia bermazhab Syafi'i dan seperti di mana-mana, kaum Syafi'i kebanyakan menganut akidah Asyari.
Ini berbeda dengan kaum Sunni bermazhab Hanafi (di Asia Daratan) yang kebanyakan menganut akidah Maturidi, dan dari kaum Sunni bermazhab Hanbali (di Arabia) yang tidak menganut Asy'ari maupun Maturidi, melainkan mempunyai aliran sendiri khas Hanbali.
Baca juga: Sejarah Daulah Fatimiyah: Buah Ketidakpuasan Kaum Syiah terhadap Daulah Abbasiyah
Pembela paling tegas paham Sunnah (lengkapnya, Ahl Sunnah wa al-Jama'ah -- baca: "Ahlusunnah waljama'ah") di negeri kita, yaitu Nahdlatul 'Ulama', dalam muktamarnya di Situbondo akhir 1984 yang lalu merumuskan dan menegaskan bahwa paham Sunnah ialah paham yang dalam 'akidah menganut al-Asy'ari atau al-Maturidi.
Sedangkan kelompok-kelompok lain, seperti Muhammadiyah sebagai yang pertama-tama dan terbesar, yang biasanya oleh Nahdlatul Ulama' dipandang sebagai tidak tegas berpaham Ahl al-Sunnah wa al jama'ah (namun sebenarnya dalam banyak hal malah sangat Sunni), juga masih tetap menganut al-Asy'ari dalam 'akidah, tanpa banyak mengambil alih kritik para pemikir modernis Islam seperti Muhammad Abduh, ataupun pemikir reformis seperti Ibn Taimiyyah dan, apalagi, Muhammad ibn 'Abd-al-Wahhab, terhadap beberapa segi paham Asy'ari itu.
Lalu, siapa sejatinya paham Asy'ari itu?