Kisah Tabiin Amir bin Abdilah, Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah
Tim langit 7
Senin, 16 Desember 2024 - 16:22 WIB
Kisah Tabiin Amir bin Abdilah, Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah
LANGIT7.ID-Pada tahun 14 H, saat di mana para pembimbing generasi dan guru utama di kalangan para sahabat dan senior tabi’in membuat perbatasan kota Bashrah atas perintah Khalifah Muslimin Umar bin Khattab ra.
Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berperang di negeri Persia. Sekaligus sebagai titik tolak untuk berdakwah ilallah, serta sebagai menara untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Di kota ini kaum muslimin dan segala penjuru Jazirah Arab, ada yang dan Najd, Hijaz dan Yaman berkumpul untuk menjaga perbatasan daerah kaum muslimin.
Di antara yang turut berhijrah tersebut terdapat pemuda Najed dan Bani Tamim yang dipanggil dengan nama Amir bin Abdilah At-Tamimi Al-Anbari. Usianya masih remaja, masih lunak kulitnya, putih wajahnya, suci jiwanya dan takwa hatinya.
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam bukunya berjudul "Shuwaru min Hayati At-Tabi'in" yang diterjemahkan Abu Umar Abdillah menjadi "Mereka adalah Para Tabiin" berkisah, kendati masih berstatus baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya di negeri kaum muslimin dan paling melimpah hartanya, karena tertumpuk di dalamnya hasil ghanimah perang dan tambang emas murni.
Namun begitu, bagi pemuda dan Bani Tamimi hal itu bukanlah yang dia cari. Beliau dikenal zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, berharap terhadap apa yang ada di sisi Allah, berpaling dan dunia dan perhiasannya, menghadapkan jiwanya kepada Allah dan keridhaan-Nya.
Ketika itu pemuka Bashrah adalah seorang sahabat agung Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau adalah wali kota Bashrah yang bercahaya. Beliau juga panglima perang kaum muslimin yang berasal dan Bashrah setiap kali menghadapi musuh. Beliau adalah imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya menuju ke jalan Allah.
Mereka bertekad untuk membangun kota baru sebagai markas bagi pasukan kaum muslimin untuk berperang di negeri Persia. Sekaligus sebagai titik tolak untuk berdakwah ilallah, serta sebagai menara untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Di kota ini kaum muslimin dan segala penjuru Jazirah Arab, ada yang dan Najd, Hijaz dan Yaman berkumpul untuk menjaga perbatasan daerah kaum muslimin.
Di antara yang turut berhijrah tersebut terdapat pemuda Najed dan Bani Tamim yang dipanggil dengan nama Amir bin Abdilah At-Tamimi Al-Anbari. Usianya masih remaja, masih lunak kulitnya, putih wajahnya, suci jiwanya dan takwa hatinya.
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam bukunya berjudul "Shuwaru min Hayati At-Tabi'in" yang diterjemahkan Abu Umar Abdillah menjadi "Mereka adalah Para Tabiin" berkisah, kendati masih berstatus baru, kota Bashrah menjadi kota terkaya di negeri kaum muslimin dan paling melimpah hartanya, karena tertumpuk di dalamnya hasil ghanimah perang dan tambang emas murni.
Namun begitu, bagi pemuda dan Bani Tamimi hal itu bukanlah yang dia cari. Beliau dikenal zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, berharap terhadap apa yang ada di sisi Allah, berpaling dan dunia dan perhiasannya, menghadapkan jiwanya kepada Allah dan keridhaan-Nya.
Ketika itu pemuka Bashrah adalah seorang sahabat agung Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau adalah wali kota Bashrah yang bercahaya. Beliau juga panglima perang kaum muslimin yang berasal dan Bashrah setiap kali menghadapi musuh. Beliau adalah imam penduduk Bashrah, pengajar dan pembimbingnya menuju ke jalan Allah.