Ajaran Islam Tidak Menganut Paham Menstrual Taboo, Begini Penjelasannya
Tim langit 7
Kamis, 19 Desember 2024 - 16:17 WIB
Ajaran Islam Tidak Menganut Paham Menstrual Taboo, Begini Penjelasannya
LANGIT7.ID-Jakarta; Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA mengatakan ajaran Islam tidak menganut paham menstrual taboo. Paham ini berkembang dalam agama Yahudi. Darah menstruasi dianggap darah tabu (menstrual taboo) dan perempuan yang sedang menstruasi menurut kepercayaan Agama Yahudi harus hidup dalam gubuk khusus.
Gubuk itu dirancang untuk tempat hunian para perempuan menstruasi. Mereka mengasingkan diri di dalam gua-gua, tidak boleh bercampur dengan keluarganya, tidak boleh berhubungan seks, dan tidak boleh menyentuh jenis masakan tertentu.
Bukan itu saja, yang lebih penting ialah tatapan mata dari mata wanita sedang menstruasi yang biasa disebut dengan "mata iblis" (evil eye) harus diwaspadai, karena diyakini bisa menimbulkan berbagai bencana.
Perempuan harus mengenakan identitas diri sebagai isyarat tanda bahaya (signals of warning) manakala sedang menstruasi, supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap menstrual taboo.
Dari sinilah asal-usul penggunaan kosmetik yang semula hanya diperuntukkan kepada perempuan sedang menstruasi. Barang-barang perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, giwang, anting-anting, sandal, selop, lipstik, shadow, celak, termasuk cadar/jilbab ternyata adalah menstrual creations.
Haid dalam Islam
Nasaruddin Umar dalam tulisannya berjudul "Perspektif Jender Dalam Islam" yang dihimpun dalam buku "Jurnal Pemikiran Islam Paramadina" mengatakan ajaran Islam tidak menganut paham menstrual taboo, sebaliknya berupaya mengikis tradisi dan mitos masyarakat sebelumnya yang memberikan beban berat terhadap kaum wanita.
Gubuk itu dirancang untuk tempat hunian para perempuan menstruasi. Mereka mengasingkan diri di dalam gua-gua, tidak boleh bercampur dengan keluarganya, tidak boleh berhubungan seks, dan tidak boleh menyentuh jenis masakan tertentu.
Bukan itu saja, yang lebih penting ialah tatapan mata dari mata wanita sedang menstruasi yang biasa disebut dengan "mata iblis" (evil eye) harus diwaspadai, karena diyakini bisa menimbulkan berbagai bencana.
Perempuan harus mengenakan identitas diri sebagai isyarat tanda bahaya (signals of warning) manakala sedang menstruasi, supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap menstrual taboo.
Dari sinilah asal-usul penggunaan kosmetik yang semula hanya diperuntukkan kepada perempuan sedang menstruasi. Barang-barang perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, giwang, anting-anting, sandal, selop, lipstik, shadow, celak, termasuk cadar/jilbab ternyata adalah menstrual creations.
Haid dalam Islam
Nasaruddin Umar dalam tulisannya berjudul "Perspektif Jender Dalam Islam" yang dihimpun dalam buku "Jurnal Pemikiran Islam Paramadina" mengatakan ajaran Islam tidak menganut paham menstrual taboo, sebaliknya berupaya mengikis tradisi dan mitos masyarakat sebelumnya yang memberikan beban berat terhadap kaum wanita.