Kisah Farrukh Pergi Berjihad, Meninggalkan Istrinya yang Tengah Hamil
Tim langit 7
Sabtu, 21 Desember 2024 - 19:41 WIB
Kisah Farrukh Pergi Berjihad, Meninggalkan Istrinya yang Tengah Hamil
LANGIT7.ID-Jakarta; Pemuda perkasa itu bernama Farrukh. Ia akhirnya kembali ke Madinah setelah bertahun-tahun bergabung dengan pasukan muslim dan banyak melakukan pertempuran.
Farrukh kembali ke kota Rasulullah SAW dalam usia 30 tahun. Kini dia bertekad membangun mahligai rumah tangga, menyunting seorang gadis agar lebih tenang hidupnya. Dibelinya sebuah rumah yang sederhana di kota Madinah, dipilihnya seorang gadis yang sudah matang pikirannya, sempurna agamanya, serasi tubuh, dan usianya.
Farrukh sangat bersyukur atas karunia Allah yang memberinya rumah dan istri yang salehah. Sekarang dia benar-benar bisa merasakan kenikmatan hidup didampingi istri yang mampu mengatur semua tatanan kehidupan, persis seperti yang diharapkan dan dicita-citakannya.
Hanya saja, rumah yang nyaman dengan segala kebutuhan hidup dan istri yang salehah beserta akhlak dan kecantikan yang telah Allah karuniakan kepadanya tak mampu meredam gejolak kerinduannya terhadap jihad fi sabilillah.
Pahlawan mukmin ini ingin kembali memasuki medan tempur. Setiap kali mendengar berita tentang kemajuan yang dicapai pasukan muslimin, makin bertambah kerinduannya untuk berjihad, makin dalam hasratnya untuk dapat mati syahid.
Hari Jumat, khatib masjid Nabawi memberikan kabar gembira tentang kemenangan kaum muslimin di berbagai medan perang. Khatib juga memberikan motivasi orang-orang untuk terus berjihad fi sabilillah, menjelaskan kepada mereka akan keutamaan syahid demi meninggikan agama-Nya.
Pulanglah Farrukh ke rumahnya sedang di hatinya telah bulat tekadnya untuk berjuang di bawah panji-panji kaum muslimin yang bertebaran di muka bumi. Kemudian beliau ceritakan tekadnya kepada istrinya, sehingga istrinya bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa engkau hendak menitipkan aku beserta janin dalam kandunganku ini, sedangkan engkau adalah orang asing yang tak punya sanak keluarga di kota ini?”
Farrukh kembali ke kota Rasulullah SAW dalam usia 30 tahun. Kini dia bertekad membangun mahligai rumah tangga, menyunting seorang gadis agar lebih tenang hidupnya. Dibelinya sebuah rumah yang sederhana di kota Madinah, dipilihnya seorang gadis yang sudah matang pikirannya, sempurna agamanya, serasi tubuh, dan usianya.
Farrukh sangat bersyukur atas karunia Allah yang memberinya rumah dan istri yang salehah. Sekarang dia benar-benar bisa merasakan kenikmatan hidup didampingi istri yang mampu mengatur semua tatanan kehidupan, persis seperti yang diharapkan dan dicita-citakannya.
Hanya saja, rumah yang nyaman dengan segala kebutuhan hidup dan istri yang salehah beserta akhlak dan kecantikan yang telah Allah karuniakan kepadanya tak mampu meredam gejolak kerinduannya terhadap jihad fi sabilillah.
Pahlawan mukmin ini ingin kembali memasuki medan tempur. Setiap kali mendengar berita tentang kemajuan yang dicapai pasukan muslimin, makin bertambah kerinduannya untuk berjihad, makin dalam hasratnya untuk dapat mati syahid.
Hari Jumat, khatib masjid Nabawi memberikan kabar gembira tentang kemenangan kaum muslimin di berbagai medan perang. Khatib juga memberikan motivasi orang-orang untuk terus berjihad fi sabilillah, menjelaskan kepada mereka akan keutamaan syahid demi meninggikan agama-Nya.
Pulanglah Farrukh ke rumahnya sedang di hatinya telah bulat tekadnya untuk berjuang di bawah panji-panji kaum muslimin yang bertebaran di muka bumi. Kemudian beliau ceritakan tekadnya kepada istrinya, sehingga istrinya bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa engkau hendak menitipkan aku beserta janin dalam kandunganku ini, sedangkan engkau adalah orang asing yang tak punya sanak keluarga di kota ini?”