Menteri BUMN Dorong Peningkatan Kapasitas Ekonomi Pesantren
Muhajirin
Ahad, 19 September 2021 - 18:04 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir (foto: istimewa)
Menteri BUMN, Erick Thohir, menilai pondok pesantren dan ekonomi syariah mempunyai potensi yang sangat untuk memajukan ekonomi nasional. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara daring Diplomat Success Challenge ke-12 di Jakarta, Sabtu (19/9/2021).
Dari 28.914 pesantren, setidaknya terdapat 12 ribu pesantren yang berpotensi untuk pengembangan ekonomi. Sedikitnya 12 ribu pesantren yang berpotensi itu masih membutuhkan pendampingan, bimbingan, serta pembekalan, untuk dapat melahirkan santri dengan kemampuan berwirausaha atau santripreneur.
Pemberdayaan ekonomi di pesantren tidak hanya bermanfaat bagi para santri, namun juga masyarakat yang tinggal di sekitar lembaga pendidikan tersebut.
Maka dari itu, pendidikan keuangan syariah yang melibatkan banyak pihak perlu dikenalkan dan dikembangkan bagi para santri di pondok pesantren. Pengembangan ekonomi syariah di pondok pesantren, harus menggunakan teknologi terkini, sehingga dapat selaras dengan kondisi perekonomian di berbagai daerah.
“Pondok pesantren dan ekonomi syariah mempunyai potensi yang sangat besar untuk mendongkrak kemajuan ekonomi nasional,” kata Erick.
Potensi itu menjadi kekuatan ekonomi syariah Indonesia yang menempati peringkat empat dunia. Indonesia mendapat skor indikator ekonomi Islam global sebesar 91,2 dengan sektor-sektor unggulan meliputi makanan halal, keuangan, pariwisata, fashion muslim, kosmetik hingga media dan hiburan.
Erick menilai potensi yang sangat besar itu masih bisa dikembangkan secara maksimal agar pesantren mampu berdaya dan mandiri secara ekonomi. Apalagi, pondok pesantren kini tak lagi hanya menjadi lembaga pendidikan yang berlandaskan keislaman, namun penggerak kegiatan kewirausahaan dan pusat ekonomi bagi lingkungannya.
Dari 28.914 pesantren, setidaknya terdapat 12 ribu pesantren yang berpotensi untuk pengembangan ekonomi. Sedikitnya 12 ribu pesantren yang berpotensi itu masih membutuhkan pendampingan, bimbingan, serta pembekalan, untuk dapat melahirkan santri dengan kemampuan berwirausaha atau santripreneur.
Pemberdayaan ekonomi di pesantren tidak hanya bermanfaat bagi para santri, namun juga masyarakat yang tinggal di sekitar lembaga pendidikan tersebut.
Maka dari itu, pendidikan keuangan syariah yang melibatkan banyak pihak perlu dikenalkan dan dikembangkan bagi para santri di pondok pesantren. Pengembangan ekonomi syariah di pondok pesantren, harus menggunakan teknologi terkini, sehingga dapat selaras dengan kondisi perekonomian di berbagai daerah.
“Pondok pesantren dan ekonomi syariah mempunyai potensi yang sangat besar untuk mendongkrak kemajuan ekonomi nasional,” kata Erick.
Potensi itu menjadi kekuatan ekonomi syariah Indonesia yang menempati peringkat empat dunia. Indonesia mendapat skor indikator ekonomi Islam global sebesar 91,2 dengan sektor-sektor unggulan meliputi makanan halal, keuangan, pariwisata, fashion muslim, kosmetik hingga media dan hiburan.
Erick menilai potensi yang sangat besar itu masih bisa dikembangkan secara maksimal agar pesantren mampu berdaya dan mandiri secara ekonomi. Apalagi, pondok pesantren kini tak lagi hanya menjadi lembaga pendidikan yang berlandaskan keislaman, namun penggerak kegiatan kewirausahaan dan pusat ekonomi bagi lingkungannya.