Jurnalis Perempuan Tewas Ditembak di Kepala, Ibu Korban Salahkan Otoritas Palestina
Lusi mahgriefie
Selasa, 07 Januari 2025 - 10:52 WIB
Shatha al-Sabbagh (21) seorang mahasiswi jurnalistik yang terkenal berani dan vokal tewas tertembak di bagian kepala. Foto: bbc.com
Shatha al-Sabbagh (21) seorang mahasiswi jurnalistik yang terkenal berani dan vokal tewas tertembak di bagian kepala, tepat sebelum malam tahun baru. Ibunda Shatha dengan tegas menyalahkan pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) atas kejadian ini.
Peringatan: tulisan ini mengandung detail yang menyedihkan.
Di malam nahas itu, Shatha keluar rumah hendak membeli coklat untuk saudara-saudaranya di sebuah toko di Jenin, Tepi Barat, Palestina.
Sang ibu yang berada bersama Shatha waktu itu, menceritakan dengan penuh kesedihan. “Dia tertawa dan berkata, kami akan terjaga sepanjang malam malam ini. Kemudian dia ditembak di kepala,” kenang ibu Shatha, Umm al-Motassem yang mengaku rasa sakitnya masih terasa. Penembakan itu berlangsung sekira 10 menit. Shatha meninggal dalam genangan darahnya sendiri.
Ia pun berhenti sejenak untuk mengambil napas sebelum melanjutkan cerita. “Mata Shatha terbuka lebar. Sepertinya dia menatapku sambil berbaring telentang dengan darah mengucur dari kepalanya. Saya mulai berteriak, 'Berhenti menembak! Putri saya sudah meninggal. Putri saya sudah meninggal’,” ungkapnya.
Rekan-rekan jurnalis saat membopong jenazah Shatha. Foto: bbc.com
Atas peristiwa tersebut, keluarga Shatha meminta pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) bertanggung jawab penuh atas pembunuhannya, dan mengatakan bahwa wilayah mereka dikendalikan oleh PA.
Peringatan: tulisan ini mengandung detail yang menyedihkan.
Di malam nahas itu, Shatha keluar rumah hendak membeli coklat untuk saudara-saudaranya di sebuah toko di Jenin, Tepi Barat, Palestina.
Sang ibu yang berada bersama Shatha waktu itu, menceritakan dengan penuh kesedihan. “Dia tertawa dan berkata, kami akan terjaga sepanjang malam malam ini. Kemudian dia ditembak di kepala,” kenang ibu Shatha, Umm al-Motassem yang mengaku rasa sakitnya masih terasa. Penembakan itu berlangsung sekira 10 menit. Shatha meninggal dalam genangan darahnya sendiri.
Ia pun berhenti sejenak untuk mengambil napas sebelum melanjutkan cerita. “Mata Shatha terbuka lebar. Sepertinya dia menatapku sambil berbaring telentang dengan darah mengucur dari kepalanya. Saya mulai berteriak, 'Berhenti menembak! Putri saya sudah meninggal. Putri saya sudah meninggal’,” ungkapnya.
Rekan-rekan jurnalis saat membopong jenazah Shatha. Foto: bbc.com
Atas peristiwa tersebut, keluarga Shatha meminta pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) bertanggung jawab penuh atas pembunuhannya, dan mengatakan bahwa wilayah mereka dikendalikan oleh PA.