Kisah Tabi'in Imam Qatadah: Buta Sejak Lahir, Berjuluk Hafidhul Ashr
Miftah yusufpati
Kamis, 09 Januari 2025 - 05:15 WIB
Pada mulanya, Qatadah menimba ilmu dari sekian banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang masih hidup, seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Sarjis dan lainnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-- Sejarah telah merekam keberadaan ulama-ulama besar dengan kekuatan hafalan yang sangat luar biasa. Fakta di lapangan membuktikan bahwa kekuatan hafalan mereka bagaikan gunung-gunung yang kokoh menjulang tinggi, bagaikan karang di lautan yang tidak pernah berpindah meski harus dihantam ombak yang besar.
Salah satu ulama dengan kualitas semacam itu adalah Imam Qatadah bin Da’imah as-Sadusi, atau yang biasa disapa dengan panggilan Imam Qatadah.
Para ulama berbeda pendapat tentang tanggal kelahirannya. Namun, Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ sebagaimana dikutip laman resmi Nahdlatul Ulama mengatakan, ia lahir pada tahun 60 H, dan wafat pada tahun 118 H.
Ia berasal dari suku as-Sadus, yaitu bagian dari Bani Syaiban, suku Arab bagian utara.
Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala' menyebut Imam Qatadah sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis).
Baca juga: Kisah Tabiin Al-Qasim Cucu Abu Bakar Shiddiq: Di Bawah Asuhan Siti Aisyah
Ulama yang hidup pada masa tabiin dengan banyak kelebihan ini ternyata tidak bisa menikmati indahnya belajar menggunakan kedua matanya.
Salah satu ulama dengan kualitas semacam itu adalah Imam Qatadah bin Da’imah as-Sadusi, atau yang biasa disapa dengan panggilan Imam Qatadah.
Para ulama berbeda pendapat tentang tanggal kelahirannya. Namun, Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’ sebagaimana dikutip laman resmi Nahdlatul Ulama mengatakan, ia lahir pada tahun 60 H, dan wafat pada tahun 118 H.
Ia berasal dari suku as-Sadus, yaitu bagian dari Bani Syaiban, suku Arab bagian utara.
Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala' menyebut Imam Qatadah sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis).
Baca juga: Kisah Tabiin Al-Qasim Cucu Abu Bakar Shiddiq: Di Bawah Asuhan Siti Aisyah
Ulama yang hidup pada masa tabiin dengan banyak kelebihan ini ternyata tidak bisa menikmati indahnya belajar menggunakan kedua matanya.