Kementerian Kebudayaan Gelar Pameran Jejak Perlawanan “Sang Presiden 2001” Tribut untuk Hardi
Lusi mahgriefie
Sabtu, 11 Januari 2025 - 08:16 WIB
Total ada 78 karya yang ditampilkan pada pameran Jejak Perlawanan Sang Presiden 2001 Tribut untuk Hardi ini. Foto: dok. Kemenbud
Kementerian Kebudayaan menghadirkan pameran bertajuk Jejak Perlawanan “Sang Presiden 2001”
Tribut untuk Hardi (1951-2023). Sesuai judulnya, pameran ini merupakan bentuk penghormatan kepada Raden Soehardi Adimaryono atau yang lebih dikenal sebagai Hardi, seorang perupa yang memiliki pengaruh dan kontribusi besar terhadap peta arah perkembangan seni rupa Indonesia.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam sambutannya saat membuka pameran ini menegaskan bahwa Hardi adalah seorang sosok yang sangat kreatif dan selalu menjadi pusat perhatian.
“Kita merasa kehilangan seorang seniman, yang pernah dipuji oleh pelukis Alm. Afandi sebagai salah satu pelukis terbaik. Kita tahu seorang Hardi yang sangat kreatif dan kritis. Seringkali beliau berani mengkritisi, karena begitu lugas dalam menyampaikan kritik,” ungkap ujar Mentri Fadli Pameran di Plaza Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (9/1).
Ia menambahkan, sosok Hardi mengajarkan kita bahwa seni adalah alat untuk menyuarakan keadilan, menggerakkan perubahan, dan membangun peradaban yang lebih manusiawi.
"Kalau saat ini diadakan tribut bagi Hardi, saya kira ini adalah bagian dari penghargaan. Seniman kita adalah aset nasional kita. Karya-karya Hardi dan tokoh seni lainnya merupakan aset bangsa. Ke depannya dengan kehadiran Kementerian Kebudayaan, kita dapat merevitalisasi Galeri Nasional agar kedepannya lebih representatif, tentunya untuk menampilkan karya-karya maestro kita," ungkap Menteri Kebudayaan.
Pembukaan pameran tersebut dihadiri pula oleh pejabat di lingkungan Kemenbud, perwakilan duta besar dari Ceko, Filipina, dan Peru, keluarga Hardi, para seniman dan masyarakat pecinta seni dan budaya.
Tribut untuk Hardi (1951-2023). Sesuai judulnya, pameran ini merupakan bentuk penghormatan kepada Raden Soehardi Adimaryono atau yang lebih dikenal sebagai Hardi, seorang perupa yang memiliki pengaruh dan kontribusi besar terhadap peta arah perkembangan seni rupa Indonesia.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam sambutannya saat membuka pameran ini menegaskan bahwa Hardi adalah seorang sosok yang sangat kreatif dan selalu menjadi pusat perhatian.
“Kita merasa kehilangan seorang seniman, yang pernah dipuji oleh pelukis Alm. Afandi sebagai salah satu pelukis terbaik. Kita tahu seorang Hardi yang sangat kreatif dan kritis. Seringkali beliau berani mengkritisi, karena begitu lugas dalam menyampaikan kritik,” ungkap ujar Mentri Fadli Pameran di Plaza Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (9/1).
Ia menambahkan, sosok Hardi mengajarkan kita bahwa seni adalah alat untuk menyuarakan keadilan, menggerakkan perubahan, dan membangun peradaban yang lebih manusiawi.
"Kalau saat ini diadakan tribut bagi Hardi, saya kira ini adalah bagian dari penghargaan. Seniman kita adalah aset nasional kita. Karya-karya Hardi dan tokoh seni lainnya merupakan aset bangsa. Ke depannya dengan kehadiran Kementerian Kebudayaan, kita dapat merevitalisasi Galeri Nasional agar kedepannya lebih representatif, tentunya untuk menampilkan karya-karya maestro kita," ungkap Menteri Kebudayaan.
Pembukaan pameran tersebut dihadiri pula oleh pejabat di lingkungan Kemenbud, perwakilan duta besar dari Ceko, Filipina, dan Peru, keluarga Hardi, para seniman dan masyarakat pecinta seni dan budaya.