Malala Yousafzai Menilai Taliban Tidak Melihat Perempuan sebagai Manusia
Lusi mahgriefie
Senin, 13 Januari 2025 - 10:23 WIB
Malala Yousafzai menyampaikan pidato pada pertemuan puncak tentang pendidikan anak perempuan di komunitas Muslim di Pakistan. Foto: bbc.com
Aktivis perempuan asal Pakistan, Malala Yousafzai, mendesak para pemimpin Muslim untuk menentang pemerintah Taliban di Afghanistan serta kebijakan represifnya terhadap anak perempuan dan perempuan.
“Sederhananya, Taliban di Afghanistan tidak memandang perempuan sebagai manusia,” katanya pada pertemuan puncak internasional yang diselenggarakan di Pakistan mengenai pendidikan anak perempuan di negara-negara Islam. Melansir bbc.com, Senin (13/1/2025).
Yousafzai mengatakan kepada para pemimpin Muslim bahwa “tidak ada sesuatu pun yang Islami” dalam kebijakan Taliban, termasuk mencegah anak perempuan dan perempuan mengakses pendidikan dan pekerjaan.
Perempuan berusia 27 tahun itu dievakuasi dari Pakistan pada usia 15 tahun, setelah ditembak di kepala oleh seorang pria bersenjata Taliban Pakistan yang menargetkan dia karena berbicara tentang pendidikan anak perempuan.
Saat berpidato di konferensi di Islamabad pada hari Minggu, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian itu mengatakan dia “sangat terharu dan bahagia” bisa kembali ke negara asalnya. Dia baru kembali ke Pakistan beberapa kali sejak serangan tahun 2012, setelah kembali pertama kali pada tahun 2018.
Dalam pidatoya ia mengatakan, pemerintah Taliban kembali menciptakan “sistem apartheid gender”. "Taliban menghukum perempuan dan anak perempuan yang berani melanggar hukum mereka dengan memukuli, menahan, dan melukai mereka," kata aktivis yang fokus terhadap hak perempuan dalam Pendidikan.
Dia menambahkan bahwa pemerintah “menyelubungi kejahatan mereka dengan pembenaran budaya dan agama” namun sebenarnya justru melawan segala sesuatu yang diyakini oleh agama Islam.
“Sederhananya, Taliban di Afghanistan tidak memandang perempuan sebagai manusia,” katanya pada pertemuan puncak internasional yang diselenggarakan di Pakistan mengenai pendidikan anak perempuan di negara-negara Islam. Melansir bbc.com, Senin (13/1/2025).
Yousafzai mengatakan kepada para pemimpin Muslim bahwa “tidak ada sesuatu pun yang Islami” dalam kebijakan Taliban, termasuk mencegah anak perempuan dan perempuan mengakses pendidikan dan pekerjaan.
Perempuan berusia 27 tahun itu dievakuasi dari Pakistan pada usia 15 tahun, setelah ditembak di kepala oleh seorang pria bersenjata Taliban Pakistan yang menargetkan dia karena berbicara tentang pendidikan anak perempuan.
Saat berpidato di konferensi di Islamabad pada hari Minggu, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian itu mengatakan dia “sangat terharu dan bahagia” bisa kembali ke negara asalnya. Dia baru kembali ke Pakistan beberapa kali sejak serangan tahun 2012, setelah kembali pertama kali pada tahun 2018.
Dalam pidatoya ia mengatakan, pemerintah Taliban kembali menciptakan “sistem apartheid gender”. "Taliban menghukum perempuan dan anak perempuan yang berani melanggar hukum mereka dengan memukuli, menahan, dan melukai mereka," kata aktivis yang fokus terhadap hak perempuan dalam Pendidikan.
Dia menambahkan bahwa pemerintah “menyelubungi kejahatan mereka dengan pembenaran budaya dan agama” namun sebenarnya justru melawan segala sesuatu yang diyakini oleh agama Islam.